{"id":2127,"date":"2021-07-17T16:12:30","date_gmt":"2021-07-17T09:12:30","guid":{"rendered":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/?p=2127"},"modified":"2021-07-17T16:12:30","modified_gmt":"2021-07-17T09:12:30","slug":"jangan-ada-lagi-jurang-antara-kita","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/2021\/07\/17\/jangan-ada-lagi-jurang-antara-kita\/","title":{"rendered":"JANGAN ADA LAGI JURANG ANTARA KITA"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>EFESUS 2:11-22<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>BAHAN KRT- RABU, 21 JULI 2021<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>E. Stanley Jones bertemu dengan Gandhi dan bertanya, &#8220;Sekalipun Anda sering mengutip kata-kata Kristus, mengapa Anda kelihatannya keras menolak untuk menjadi pengikutnya? Jawab Gandhi, &#8220;Saya tidak pernah menolak Kristus. Saya suka Kristus Anda. Tapi saya tidak suka dengan orang Kristen Anda\u201d. &#8220;Jika orang Kristen benar-benar hidup menurut ajaran Kristus, seperti yang ditemukan di dalam Alkitab, seluruh India sudah menjadi Kristen hari ini,&#8221; katanya lagi.<\/p>\n\n\n\n<p>Kita akan mengerti mengapa Gandhi mempunyai pandangan itu jika kita melihat pada pengalamannya saat ia bekerja sebagai seorang pengacara di Afrika Selatan yang menjalani sistem apartheid pada waktu itu.&nbsp;Sebagai seorang anak muda, Gandhi sangat tertarik dengan Kekristenan dan ia mempelajari Alkitab dan ajaran-ajaran Kristus. Dia serius mempertimbangkan untuk menjadi seorang Kristen dan mencari sebuah gereja untuk dikunjungi yang dekat dengan tempat tinggalnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Di pagi minggu saat ia mau melangkah masuk ke gereja, seorang penerima tamu menghalangi langkahnya.&#8221;Mau ke mana kamu orang kafir?&#8221; tanya seorang pria berkulit putih padanya dengan nada yang angkuh. Gandhi menjawab, &#8220;Saya ingin mengikuti ibadah di sini.&#8221; Penatua gereja itu membentaknya dengan berkata, &#8220;Tidak ada ruang untuk orang kafir di gereja ini. Enyahlah dari sini atau saya akan meminta orang untuk melemparkan kamu keluar!&#8221; <em>(disalin dari<\/em><em> <\/em><em>kaumindependen.blogspot.com, 19 April 2014)<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Cara berpikir seperti yang dimiliki oleh seorang penatua yang ada di gereja kulit putih di Afrika. Bisa jadi merupakan cara berpikir yang juga ada pada diri kita saat ini. Sebagaimana terjadi dalam kehidupan persekutuan jemaat di Efesus.<\/p>\n\n\n\n<p>Persekutuan jemaat di Efesus sesungguhnya bukan persekutuan yang homogen, melainkan heterogen. Ada anggota jemaat dengan latar belakang keturunan Yahudi dan juga Non-Yahudi. Kondisi jemaat yang heterogen akan sangat potensial bagi kehidupan pelayanan dan persekutuan. Karena pasti akan ada banyak karunia dan telenta di dalamnya. Akan tetapi, heterogenitas juga sangat berpotensi menghadirkan terjadinya perselisihan dan perpecahan, jika tidak dipelihara dan di rawat dengan baik.<\/p>\n\n\n\n<p>Potensi negatif ini ternyata ada di tengah kehidupan jemaat Efesus. Jemaat Efesus dengan anggotanya yang terdiri dari latar belakang Yahudi dan non Yahudi. Rupanya telah melahirkan cara berpikir yang eksklusif, khususnya dari mereka yang berasal dari keturunan Yahudi. Orang-orang Kristen keturunan Yahudi memandang bahwa mereka umat pilihan Tuhan. Sebagai umat pilihan, mereka memiliki hak istimewa dibandingkan dengan yang lain. Hak istimewa untuk menjadi ahlli waris Kerajaan Sorga. Sehingga mereka yang merasa memiliki hak istimewa ini, menerapkan persyaratan ketat kepada keturunan non Yahudi yang ingin bergabung di dalamnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Itulah sebabnya, supaya potensi negatif ini dapat dibendung bahkan dihentikan, Rasul Paulus mengirim surat kepada jemaat di Efesus.&nbsp; Isinya antara lain :<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\" type=\"1\"><li>Orang-orang non Yahudi dahulu hidup tanpa Kristus : Ya<\/li><li>Orang-orang non Yahudi dahulu tidak termasuk kewargaan Isarel : Ya<\/li><li>Orang-orang non Yahudi dahulu tidak mendapatkan bagian dalam janji Allah : Ya, dan<\/li><li>Orang-orang non Yahudi dahulu hidup tanpa pengharapan, oleh karena mereka jauh dari Allah: Ya<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Namun karena Kristus telah mati untuk semua orang (Yahudi dan non Yahudi). Darah-Nya di curahkan untuk semua orang yang mau percaya kepada-Nya. Maka tidak ada lagi jurang pemisah. Tidak ada lagi jarak atau jurang pemisah antara mereka keturunan Yahudi dan non Yahudi. Tidak ada lagi jarak yang \u2018jauh\u2019 antara orang Kristen keturunan Yahudi dan non Yahudi. Karena Kristus telah menjadi \u201cjembatan\u201d bagi mereka. Sehingga mereka dapat terhubung satu sama lain. Bari orang Kristen keturunan Yahudi yang masih mengganggap diri \u2018selalu\u2019 mempunyai hak istimewa, rasul Paulus mengajak mereka <em>mengingat<\/em>&nbsp;keadaan mereka yang dahulu (ay 11-12) sebelum percaya kepada Yesus Kristus. Ini penting supaya mereka tetap rendah hati dan tetap ingat kasih Allah kepada mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan mengajak semua anggota jemaat Efesus <em>mengingat <\/em>kembali keadaan mereka dahulu, sesungguhnya Rasul Paulus ingin menegaskan bahwa Allah telah melakuan sesuatu yang besar dalam hidup mereka. Allah di dalam Kristus telah mendekatkan mereka. Kristus telah menyatukan mereka dalam persekutuan. Sehingga perseteruan antar Allah umat Israel, karena dosa. Dan perseteruan antara keturunan Yahudi dan non Yahudi dalam persekutuan jemaat di Efesus. Kini telah dirobohkan oleh Allah, dan bayarannya adalah darah Kristus yang tercurah di kayu salib.<\/p>\n\n\n\n<p>Oleh sebab itu, Rasul Paulus menegaskan kembali bahwa perseteruan\/perselisihan di antara mereka telah didamaikan oleh Kristus. Kristus telah menjadi kurban damai dari perseteruan\/perselisihan di antara mereka dengan Allah dan sesamanya (ayat 14). Dengan Kristus menjadi kurban damai, maka tembok pemisah antara manusia dengan Allah, serta antara keturunan Yahudi dan non Yahudi telah di robohkan dan dihancurkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah tembok pemisah itu dirobohkan dan dihancurkan, maka mereka harus bersyukur kini. Mengapa?Karena kini mereka sudah memiliki \u2018akses\u2019 langsung berjumpa dengan Bapa. Kristus bukan hanya telah menjembatani perseteruan antara manusia dengan Allah serta manusia dengan sesamanya. Tetapi Kristus juga telah menjadi \u201cpembuka jalan\u201d bagi hidup damai antara manusia dengan Allah dan sesamanya. Kristus telah menjadi jalan masuk bagi mereka kepada Allah (ayat 18). Selain itu, mereka pun disebut sebagai kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah (ayat 19), mereka tidak lagi disebut pendatang dan orang asing. Dengan menjadi anggota keluarga Allah, maka berarti semua orang yang menjadi anggota persekutuan di Efesus berharga di mata Allah. Dengan menjadi anggota keluarga Allah, maka tentu tidak ada lagi jarak yang memisahkan mereka baik dengan Allah maupun sesama anggota persekutuan.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena itu di ayat 22 Rasul Paulus menegaskan keberhargaan itu di mata Allah. Bahwa setiap orang yang telah percaya dan hidupnya didamaikan oleh Allah. Maka dari mereka pun akan dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah. Sungguh luar biasa. Belajar dari kehidupan jemaat di Efesus dan kisah hidup Mahatma Gandhi,&nbsp; sebagai warga Gereja Kristen Pasundan kita diingatkan kembali akan pentingnya persatuan di dalam persekutuan sebagai satu kesatuan tubuh Kristus. Gereja, khususnya jemaat-jemaat GKP harus menjadi persekutuan yang dapat \u2018mewadahi\u2019 heterogenitas yang ada. Sebab hetergonitas adalah kekayaan yang Tuhan anugerahkan untuk dijadikan alat bagi tegak dan kokohnya bangunan tubuh Kristus. Itulah sebabnya Paulus menegaskan kembali bahwa keragaman itu adalah dasar untuk membentuk dan membangun persekutuan. Gereja harus menjadi tempat yang dapat menghargai dan menampung segala perbedaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Jangan karena kita berbeda suku, bahasa, ras dan budaya, kita berhak mengganggap diri yang paling baik dan benar di hadapan Tuhan. Jangan lagi ciptakan tembok atau jurang pemisah di dalam gereja (persekutuan), karena semua itu sudah dilenyapkan di kayu salib. Jika kita mencoba mendirikan kembali tembok pemisah di dalam gereja, itu sama saja dengan tidak menghargai pengorbanan Kristus.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>PERTANYAAN UNTUK DISKUSI<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\" type=\"1\"><li>Menurut saudara, apakah yang selama ini cenderung menjadi \u2018jurang pemisah\u2019 di dalam persekutuan<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Apakah yang saudara lakukan untuk \u2018mengikis\u2019 adanya jurang pemisah di dalam persekutuan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>EFESUS 2:11-22 BAHAN KRT- RABU, 21 JULI 2021 E. Stanley Jones bertemu dengan Gandhi dan bertanya, &#8220;Sekalipun Anda sering mengutip kata-kata Kristus, mengapa Anda kelihatannya keras menolak untuk menjadi pengikutnya? &#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":2128,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"nf_dc_page":"","om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-2127","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bahan-krt"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2127","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2127"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2127\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2129,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2127\/revisions\/2129"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2128"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2127"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2127"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2127"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}