{"id":2042,"date":"2021-07-03T20:09:33","date_gmt":"2021-07-03T13:09:33","guid":{"rendered":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/?p=2042"},"modified":"2021-07-03T20:09:33","modified_gmt":"2021-07-03T13:09:33","slug":"sempurna-melayani-dalam-ketidaksempurnaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/2021\/07\/03\/sempurna-melayani-dalam-ketidaksempurnaan\/","title":{"rendered":"SEMPURNA MELAYANI DALAM KETIDAKSEMPURNAAN"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>2 KORINTUS 12 : 2-10<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai seorang pendeta, pernah muncul imajinasi, \u201cAndai saja saya punya semua macam karunia, pasti pelayanan saya akan lebih maksimal\u201d. Imajinasi ini tentu muncul saat saya sadar, bahwa saya punya banyak kekurangan dalam melayani. Tapi, apakah betul, pelayanan menjadi \u201ckurang\u201d atau \u201ctidak\u201d maksimal hanya karena kita tidak memiliki karunia tertentu? Apakah imajinasi itu muncul karena niat ingin \u2018maksimal melayani\u2019 atau karena iri dengan orang lain? Apakah semua itu karena kita ingin memberi yang terbaik bagi kemuliaan Tuhan<\/p>\n\n\n\n<p>atau untuk membuat kita terlihat lebih hebat?<\/p>\n\n\n\n<p>Pada renungan kebaktian Minggu yang lalu, kita berefleksi tentang Kristus yang dipandang sebelah mata karena apriori para pendengar-Nya. Pada perenungan kali ini, kita belajar pula dari pengalaman Rasul Paulus. Jemaat Korintus adalah jemaat yang cukup maju dan kaya (bdk. II Korintus 8:7), tetapi memiliki mentalitas yang perlu dibenahi. Sejak pasal 10, Paulus menuangkan perasaannya dalam suratnya. Perasaan apa? Perasaan saat dirinya diremehkan oleh Jemaat Korintus. Rupa-rupanya Paulus mendapatkan stigma\/cap yang aneh-aneh dari Jemaat Korintus. Ada yang menyebut Paulus sebagai rasul palsu. Ada juga yang menganggap Paulus mencari keuntungan lewat pengajarannya\u2014baik secara materi maupun harga diri.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam teks yang kita baca, Paulus hendak menjelaskan penglihatan yang dialaminya. Berbagai penafsir memperjelas, bahwa sosok yang digambarkan oleh Paulus dalam teks ini adalah dirinya sendiri. Ia sengaja menggunakan sudut pandang orang ketiga. Disebutkan oleh Paulus, bahwa ia menerima penglihatan ini sudah cukup lama (sekitar empat belas tahun lalu), serta ia tidak bisa menjelaskan apakah penglihatan itu terjadi secara jasmani atau rohani. Allah yang mengetahui. Ada penafsir yang mencoba menerka, bahwa penglihatan ini mungkin dialami oleh Paulus saat ia buta selama tiga hari (setelah berjumpa dengan Yesus dalam perjalanan ke Damsyik). Terlepas dari apakah betul itu terjadi di masa tiga hari kebutaan itu, bagi Paulus, penglihatan itu adalah suatu pengalaman iman yang luar biasa. Ia bahkan bisa menyombongkan pengalaman iman itu jika ia mau. Tetapi di sinilah teladan yang mau disampaikan oleh Paulus.<\/p>\n\n\n\n<p>Ayat 5 dan seterusnya menjadi poin yang hendak ditekankan, bahwa Paulus selama ini tidak pernah mau bermegah. Bahwa karena segala keberadaan dirinya, ia mendapat stigma\/cap atau berbagai tuduhan, ia tidak pernah mempersoalkannya. Paulus belajar bahwa pengalaman iman bukanlah sesuatu yang pantas untuk disombongkan. Talenta yang dimiliki oleh Paulus bukan untuk disombongkan. Paulus bahkan bisa berefleksi, bahwa ia bersyukur tetap memiliki berbagai kelemahan, karena dengan kelemahan itu ia bisa menyatakan bahwa hanya kuasa Yesus saja yang diandalkan dalam melayani. Kelemahan bukan kekurangan dalam pelayanan. Kelemahan kita tidak lantas harus membuat kita kecil hati. Kelemahan justru mengajarkan kita untuk terus berkarya dengan mengadalkan kuasa Tuhan. Paulus membahasakannya dengan kalimat, \u201cSebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna\u201d. Kelemahan yang kita miliki tidak bisa menjadi alasan untuk melayani Tuhan setengah hati atau asal-asalan. Kita harus melayani Tuhan dengan sepenuh hati, walau kita tidak sempurna (tidak ada seorang manusia pun yang sempurna). Tapi kita percaya, kuasa Tuhan yang melengkapi kita, yang akan menyempurnakan pelayanan kita\u2014manusia yang tidak sempurna ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Tiap-tiap orang diberi karunianya masing-masing. Tidak ada manusia yang \u2018sempurna\u2019 tanpa kekurangan sedikit pun. Pengalaman iman\/spiritual tiap-tiap orang juga berbeda-beda. Tidak perlu merasa lebih hebat ataupun minder karena perbedaan pengalaman itu. Hal terpenting untuk kita lakukan adalah menggunakan secara maksimal semua talenta yang Tuhan berikan untuk melayani. Karena tujuan pelayanan itu adalah agar kabar baik tentang Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Kasih semakin dikenal dan dipercaya, lalu dimuliakan dengan kata dan perbuatan (Yoh. 3:16 &amp; Yoh. 13:3).<\/p>\n\n\n\n<p><strong>PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\" type=\"1\"><li>Pernahkah Bapak, Ibu, Saudara, dan Anak-anak sekalian merasa minder lalu memutuskan untuk berhenti berkarya atau menunjukkan yang terbaik? Jika ya, mengapa?<\/li><li>Talenta\/karunia apa yang ada pada diri Bapak, Ibu, Saudara, dan Anak-anak sekalian, yang masih bisa dimaksimalkan untuk melayani?<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; (DDS)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>2 KORINTUS 12 : 2-10 Sebagai seorang pendeta, pernah muncul imajinasi, \u201cAndai saja saya punya semua macam karunia, pasti pelayanan saya akan lebih maksimal\u201d. Imajinasi ini tentu muncul saat saya &#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":1983,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"nf_dc_page":"","om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-2042","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bahan-krt"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2042","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2042"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2042\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2043,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2042\/revisions\/2043"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1983"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2042"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2042"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2042"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}