{"id":1685,"date":"2021-04-10T14:55:46","date_gmt":"2021-04-10T07:55:46","guid":{"rendered":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/?p=1685"},"modified":"2021-04-10T14:55:46","modified_gmt":"2021-04-10T07:55:46","slug":"jaman-susah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/2021\/04\/10\/jaman-susah\/","title":{"rendered":"JAMAN SUSAH"},"content":{"rendered":"\n<p>Saat ini kita sedang berada dalam \u2018jaman susah\u2019, mungkin dulu kita sering mengumbar kata-kata \u2018jaman susah\u2019 ini nyaris pada setiap waktu, saat penerimaan\/omzet menurun sedikit saja, ada pajak\/pungutan yang meningkat, ada tarif\/harga yang semakin tinggi, kita langsung mengeluarkan kata-kata \u2018jaman susah\u2019. Tapi saat ini kita benar-benar berada dalam keadaan \u2018jaman susah\u2019 yang sesungguhnya, dan bahkan bila dibandingkan dengan kondisi krisis moneter tahun 1998 sekalipun, \u2018jaman susah\u2019&nbsp; akibat pandemi Covid-19 saat ini pasti menjadi yang terberat dan terburuk.<\/p>\n\n\n\n<p>Kondisi \u2018jaman susah\u2019 ini sering kali menjadi alasan kita untuk menahan, mengurangi bahkan menghentikan kita untuk memberikan persembahan, untuk membantu orang lain, untuk berderma, untuk mendukung kebutuhan biaya yang diperlukan oleh pelayanan gereja. Kita seringkali dilanda kecemasan atau ketakutan, apakah kita akan tetap berkecukupan, tidak kekurangan, apabila kita memberi persembahan ataupun berderma.<\/p>\n\n\n\n<p>Adalah perkara mudah untuk memberi persembahan ataupun berderma membantu sesama manakala kita sedang berkelimpahan, perkara sulit yang penuh pergumulan adalah tetap memberikan persembahan ataupun derma dimasa yang sulit seperti \u2018jaman susah\u2019 saat ini. Tanpa sadar kita sering memberikan persembahan berdasarkan <em>sisa <\/em>atas apa yang ada pada kita. Sisa itu setelah dikurangi segala perhitungan atas apa yang kita perlukan, tapi betulkah itu berdasarkan apa yang kita perlukan? Sesungguhnya seringkali apa yang kita pikir kita perlukan bukan benar- benar apa yang kita butuhkan, tetapi apa yang kita inginkan semata dan pada akhirnya kita mengeluh kekurangan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kita selalu merasa kurang, tidak pernah cukup, takut kalau kita memberi persembahan ataupun derma kita akan kesulitan, padahal Tuhan menghendaki kita untuk memberikan persembahan berdasarkan apa yang ada pada kita, bukan berdasarkan apa yang tidak ada pada kita, dan sesungguhnya Tuhan itu selalu mencukupkan kita akan apa yang kita butuhkan. Cara pikir kita dalam memberi persembahan seringkali salah, contohnya: kalau saya memberi persembahan, maka saya tidak bisa membeli makan berupa 1 porsi batagor yang terkenal enak dan harganya mahal, ya kita butuh makan, Tuhan mencukupkan kebutuhan kita akan makanan, tapi apa iya makanan &nbsp;yang kita butuhkan sampai mengorbankan persembahan adalah 1 porsi batagor &nbsp;terkenal &nbsp;yang mahal harganya? Disini kita bisa melihat, apakah makanan itu adalah makanan yang kita butuhkan atau sekedar kita inginkan? Pada \u2018Jaman susah\u2019 ini hendaknya kita semakin bijak untuk mencukupkan diri dengan apa yang ada pada kita dan tetap memberikan persembahan ataupun derma tanpa dilanda kecemasan akan mengalami kekurangan. Mari belajar mensyukuri segala sesuatu atas apa yang ada pada kita dan jangan mengeluh kurang, karena Tuhan sungguh- sungguh mencukupkan kita atas apa yang kita butuhkan, bukan atas apa yang kita inginkan, melalui jalan dan rancangannya yang ajaib melampaui segala akal, Amin.&nbsp; (STPN)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saat ini kita sedang berada dalam \u2018jaman susah\u2019, mungkin dulu kita sering mengumbar kata-kata \u2018jaman susah\u2019 ini nyaris pada setiap waktu, saat penerimaan\/omzet menurun sedikit saja, ada pajak\/pungutan yang meningkat, &#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":69,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"nf_dc_page":"","om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-1685","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/bandung.gkp.or.id\/warta\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/saling-menolong.jpg?fit=1999%2C928&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1685","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1685"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1685\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1686,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1685\/revisions\/1686"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/69"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1685"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1685"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1685"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}