{"id":145,"date":"2020-05-05T08:45:33","date_gmt":"2020-05-05T01:45:33","guid":{"rendered":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/?p=145"},"modified":"2020-05-05T08:45:33","modified_gmt":"2020-05-05T01:45:33","slug":"penjelasan-bahan-krt-dipanggil-untuk-meneladani-kristus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/2020\/05\/05\/penjelasan-bahan-krt-dipanggil-untuk-meneladani-kristus\/","title":{"rendered":"Penjelasan Bahan KRT: &#8220;Dipanggil Untuk Meneladani Kristus&#8221;"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>1 Petrus 2 : 18 \u2013 25<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Penjelasan Audio silahkan klik link di bawah ini:<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/drive.google.com\/open?id=1W8AXNUAQUM6OIqlAf6PuuoWsGyUv_Gam\">https:\/\/drive.google.com\/open?id=1W8AXNUAQUM6OIqlAf6PuuoWsGyUv_Gam<\/a><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pendahuluan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Ibu\/Bpk Sdr\/i sekalian, bila kita membaca bahan bacaan ini, hal yang utama yang mengemuka adalah perihal menerima penderitaan sebagai bentuk keteladanan kepada Kristus. Hal ini digambarkan oleh seorang hamba yang biasa menerima perlakuan keji dari tuannya (ay. 18), sehingga seorang hamba, mau tidak mau memang harus patuh kepada tuannya itu. Bahkan bentuk ketundukan terhadap tuan tersebut dipersonifikasikan sebagai kasih karunia dari Allah (ay. 19). Pertanyaannya, apakah seorang hamba berdiam saja bila diperlakukan keji, bahkan oleh tuannya sekalipun? Apakah keadilan tidak memiliki kuasa atas ketidakadilan yang merajalela? Juga pertanyaan yang lebih tajam, di mana Allah dan apakah Allah diam saja ketika penderitaan itu terjadi pada manusia? Untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, tentu konteks bacaan akan membantu kita untuk dapat memahaminya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>1 Petrus 2 : 18 \u2013 25<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam bacaan ini, Petrus paham betul siapa yang menjadi salah satu pembaca suratnya tersebut. Surat ini sungguh sangat relevan, karena surat ini juga ditujukan untuk para hamba atau budak, sebab mereka adalah bagian terbesar dalam Gereja Mula-mula. Kata yang Petrus gunakan untuk \u201chamba-hamba\u201d bukanlah <em>douloi<\/em> yang merupakan kata yang umum\/ sering digunakan. Petrus menggunakan kata <em>oiketai<\/em> yang menunjuk pada budak-budak dalam negeri dan dalam rumah tangga. Untuk memahami ucapan Petrus tersebut, kita harus memahami hakekat perbudakan yang terjadi pada masa Gereja Mula-mula. Dalam kekaisaran Romawi, kira-kira terdapat 60 juta orang budak. Perbudakan dimulai ketika Romawi menaklukan banyak wilayah dan para budak itu adalah para tawanan perang. Awalnya Romawi memiliki sedikit budak, tetapi pada masa Perjanjian Baru jumlahnya terus bertambah mencapai jutaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Pekerjaan budak bukan hanya mengarah pada pekerjaan yang dianggap kotor saja. Dokter, guru, musisi, aktor, sekretaris dan pelayan, juga disebut budak. Dalam kenyataannya, semua pekerjaan orang Romawi, dilakukan oleh para budak. Dan orang Romawi sendiri berposisi sebagai tuan. Menurut orang Romawi, tidak pada tempatnya seorang tuan harus melakukan pekerjaannya sendiri. Biarlah budak-budak yang melakukan itu semua, sedangkan para orang Romawi hidup bermalas-malasan. Pasokan akan budak, tidak pernah berhenti setiap hari.<\/p>\n\n\n\n<p>Para budak tidak diizinkan menikah, tetapi mereka bisa hidup sebagai suami istri. Anak-anak yang lahir dari hubungan demikian menjadi harta milik tuannya, bukan milik orang tua yang melahirkan. Hal ini sama persis dengan domba yang melahirkan anak-anak domba dan menjadi kepunyaan si pemilk peternakan, bukannya anak domba itu. Hal ini dapat dipahami karena dalam hukum Romawi, seorang budak bukanlah manusia, melainkan barang. Ia tidak memiliki hak dalam hukum. Ia hanya memiliki kewajiban. Dengan demikian, seorang budak tidak bisa memperjuangkan keadilan bagi dirinya sendiri. Aristoteles pernah menulis <em>\u201cTidak ada persahabatan dan keadilan untuk barang-barang yang tidak bernyawa, termasuk seekor kuda, sapi dan seorang budak. Sebab di antara tuan dan budak, tidak terdapat kesamaan. Seorang budak adalah alat yang hidup. Sama seperti alat, budak juga tidak memiliki nyawa.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Berdasarkan konteks tersebutlah surat ini ditulis. Sehingga, para pembaca, khususnya para budak kala itu paham betul akan seruan yang disampaikan oleh Petrus. Sebagai seorang yang juga melakukan pekabaran Injil, Petrus sadar bahwa sebagian besar orang Kristen mula-mula adalah rakyat miskin, dan banyak di antaranya adalah budak. Dengan demikian, bisa jadi seorang budak menjadi pemimpin jemaat kala itu, sedangkan tuannya menjadi anggotanya. Ini adalah situasi yang baru sekaligus revolusioner. Dalam situasi seperti ini, terdapat kemuliaan di mana di hadapan kekristenan semua orang sama, sekaligus bahaya. Maka dari itulah, Petrus mendesak agar seorang budak menjadi budak yang baik dan pekerja yang setia. Karena jika tidak demikian, terdapat dua bahaya yang dapat terjadi :<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\" type=\"1\"><li>Jika terjadi tuan dan hamba sama-sama Kristen dalam jemaat, maka muncul bahaya bahwa seorang budak dapat berdalih untuk lalai dari pekerjaannya. Ia menjadi masa bodoh terhadap tuannya. Dengan tuannya menjadi Kristen, terdapat pemahaman bahwa budak menghendaki kelonggaran atau bahkan kebebasan sehingga para budak tidak perlu lagi melakukan tugas-tugas sebagai budak bagi tuannya.<\/li><li>Dengan martabat baru dari kekristenan, ada bahaya di mana para budak akan memberontak, sekaligus menghapuskan perbudakan. Jika ini terjadi, malah akan terjadi bencana, dimana para tuan bukan hanya meninggalkan kekristenan, tapi bisa saja membunuh para budak tersebut karena dianggap memberontak dan melawan tuannya. Dan tindakan itu dilindungi oleh hukum Romawi.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Melalui penjelasan tadi, lalu apakah kekristenan mula-mula justru melegalkan atau menyetujui terjadinya perbudakan? Sebetulnya tidak juga dikatakan demikian. Justru kekristenan memiliki makna baru dalam hubungan tuan dan budak ini, yaitu :<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\" type=\"1\"><li>Kekristenan memperkenalkan hubungan yang baru di antara tuan dan hamba, hubungan itu dinamakan saudara kekasih. Kita mungkin bisa mengetahuinya dari surat Filemon, di mana Paulus yang waktu itu bertemu dengan Onesimus di penjara meminta kepada Filemon untuk menerima kembali Onesimus yang waktu itu adalah budak Filemon. Namun Paulus meminta supaya Filemon tidak lagi menjadi tuan, dan Onesimus tidak lagi menjadi hamba, melainkan sebagai saudara kekasih (Flm. 16). Dengan demikian kekristenan sedang memperkenalkan hubungan persaudaraan yang baru, di mana perbedaan yang ada di atasi dan di baharui.<\/li><li>Kekristenan memperkenalkan sikap yang baru terhadap kerja. Petrus ingin mengarahkan pandang bahwa pekerjaan pun harus dilakukan demi Yesus Kristus. Paulus menulis <em>\u201cDan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus\u201d<\/em> (Kol. 3 : 17). Pada bagian lain dikatakan <em>\u201cJika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan segala sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah\u201d<\/em> (I Kor. 10 : 31).<\/li><li>Akan tetapi, jika semuanya sudah dilakukan dengan sangat baik, tapi para budak juga masih menderita, lalu bagaimana? Di sinilah Petrus merujuk pada Kristus. Yesus adalah hamba yang menderita. Ayat 21 \u2013 25 adalah kutipan yang berasal dari Yesaya 53, dengan menampilkan gambaran mengenai Hamba Allah Yang Menderita dalam diri Yesus. Dia tidak berdosa, namun dihina dan menderita. Dia menerima hinaan dan penderitaan itu dengan kasih yang tulus dan menanggungnya demi manusia yang berdosa. Dengan berbuat demikian, Yesus memberikan teladan yang harus kita ikuti (ay. 21).<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p><strong>Relevansi di Masa Kini<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Jika kita menarik apa yang terjadi di zaman Petrus ke masa kini, tentu perbudakan sudah tidak dapat ditoleransi apalagi dilegalkan. Namun kita harus ingat, kenapa Petrus menghendaki para budak untuk tetap menjalankan perannya sebagai budak dengan baik, juga ketika menderita, karena memang konteksnya sesuai dan mendukung. Tapi bagi kita di masa kini dan sekarang, sudah tidak sesuai. Justru kita akan memperjuangkan kemerdekaan setiap orang supaya tidak terjadi kembali yang namanya perbudakan.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun yang penting yang dapat menjadi pembelajaran adalah mengenai sikap terhadap penderitaan itu sendiri. Penderitaan yang tidak harus melulu berdasarkan pada perbudakan (sesuai dengan penjelasan teks), tapi penderitaan akan apapun yang menjadi penyebabnya. Penderitaan karena iman yang dipercaya sehingga kita dipersekusi, penderitaan karena faktor ekonomi, penderitaan karena faktor kesehatan, penderitaan karena pandemi Covid-19. Apapun yang menjadi penyebab penderitaan itu, kita harus tetap menyikapinya. Bagaimana sikap kita? Ada beberapa sikap yang mungkin dialami oleh setiap orang jika berhadapan dengan penderitaan. Tidak sedikit orang yang bersikap kecewa, mengeluh, mengomel dan bersungut-sungut kepada Tuhan ketika mengalami penderitaan. Bahkan ditambah pertanyaan, di mana Tuhan ketika kami menderita? Sikap ini sikap yang wajar dan dimaklum, namun tidak untuk dicontoh dan dilakukan. Jangankan untuk meneladani, seusai dengan tema kita, sikap ini malah akan semakin menjauhkan kita pada pengharapan akan Tuhan. Lalu, kalau begitu sikap yang seperti apa? Yaitu, sikap yang penuh dengan keberserahan sambil berjuang. Keberserahan mengandung sebuah pengharapan bahwa Tuhan tetap bekerja dalam setiap aspek kehidupan kita. Sehingga pengharapan itu akan membawa kita pada sebuah keyakinan yang tak pernah padam dalam Tuhan. Dengan keberserahan yang juga dibarengi perjuangan, maka sejatinya kita sedang mewujudkan pengharapan itu dengan tindakan nyata. Berserah bahwa Tuhan turut bekerja, berjuang bahwa Tuhan menganugerahi kita hikmat bijaksana supaya dapat beraksi mengatasi penderitaan ini. Namunpun jika penderitaan harus terjadi dan kita alami, janganlah hilang pengharapan. Ingatlah bahwa Yesus pun pernah menderita melebihi apa yang kita rasakan. Penderitaan kita tidak melebihi penderitaan yang Yesus alami. Dan justru, penderitaan Yesus merupakan sumber keteladanan bagi kita yang juga turut merasakan penderitaan di dunia ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Demikian tambahan penjelasan untuk KRT 6 Mei 2020. Semoga bermanfaat. Salam!<\/p>\n\n\n\n<p>Sumber acuan : William Barclay, <em>PASH Surat Yakobus, 1 &amp; 2 Petrus, <\/em>BPK Gunung Mulia Jakarta, 2011.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>1 Petrus 2 : 18 \u2013 25 Penjelasan Audio silahkan klik link di bawah ini: https:\/\/drive.google.com\/open?id=1W8AXNUAQUM6OIqlAf6PuuoWsGyUv_Gam Pendahuluan Ibu\/Bpk Sdr\/i sekalian, bila kita membaca bahan bacaan ini, hal yang utama yang &#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":91,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"nf_dc_page":"","om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-145","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bahan-krt"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/145","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=145"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/145\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":146,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/145\/revisions\/146"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/91"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=145"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=145"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=145"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}