Kegiatan PraPaskah, Paskah dan Pentakosta tahun 2025 Gereja Kristen Pasundan Jemaat Bandung

MASA RAYA PASKAH
Jemaat sekalian, saat ini kita akan memasuki masa Raya Paskah. Masa Raya Paskah dimulai dari peringatan Minggu-minggu Prapaskah, Pekan Suci, Trihari Suci, Minggu-minggu Paskah dan Pentakosta. Berkaitan dengan istilah-istilah tersebut, akan diuraikan kemudian. Mungkin bagi sebagian warga GKP, agak asing dengan pengistilahan Minggu Pra Paskah. Kenapa? Karena di GKP, dikenal dengan istilah minggu-minggu sengsara (7 minggu sengsara sebelum Jumat Agung). Lalu apa bedanya? Bedanya pada sebuah penghayatan. Minggu-minggu sengsara ingin mengajak umat untuk menghayati akan kesengsaraan Tuhan Yesus yang berpuncak pada peristiwa penyaliban pada Jumat Agung. Oleh karena itulah, pada Jumat Agung kita merayakan perjamuan kudus. Memang terkesan janggal atau aneh di Jumat Agung kita justru beryukur melalui perayaan sakramen Perjamuan Kudus. Tapi justru, Perjamuan Kudus menjadi sebuah anamnesis (pengenangan/ pengingatan) bahwa tubuh dan darah yang terkoyak dan tercurah itu puncak dari kesengsaraan Yesus Kristus, karena itulah musti untuk dirayakan. Umat diajak dengan sungguh-sungguh menghayati kesengsaraan Yesus Kristus dan bersedia turut serta dalam penderitaan Yesus itu dalam kehidupan melalui simbol roti dan anggur melalui Perjamuan Kudus pada Jumat Agung.
I. Minggu-Minggu Prapaskah
Masa empat puluh hari persiapan Paskah (quadraginta dierum exercitatio = masa empat puluh hari pelatihan spiritual) telah ditetapkan sejak awal abad IV di Roma. Konsili Nicea ke-4 menamakannya Quadragesima paschae (empat puluh hari sebelum Paskah). Angka empat puluh diambil dari beberapa kisah Alkitab, yaitu perlambang masa pengujian atau masa persiapan. Empat puluh hari Musa berada di Gunung Sinai (Kel. 34:28); empat puluh tahun bani Israel di padang gurun; empat puluh hari penduduk Niniwe berpuasa dan menyesali dosa (Yun. 3:1-10); dan empat puluh hari Yesus berpuasa (Mat. 4:2).
Pertanyaannya adalah kapankah Prapaskah empat puluh hari dimulai? Bagaimana cara menghitungnya? Pada abad IV, Hari Raya Paskah dihitung sejak Jumat Agung, sehingga akhir Prapaskah adalah Kamis Putih (hari kamis sehari sebelem jumat agung). Selanjutnya dihitung mundur tanpa menghitung hari Minggu. Dari perhitungan tersebut, maka awal Prapaskah jatuh pada hari Minggu pertama, yang sekarang disebut Dominica prima in Quadragesima atau caput Quadragesima. Namun jumlah hari berpuasa sejak Minggu Prapaskah pertama tidak genap 40 hari. Kemudian gereja menambahkan empat hari ke belakang, yakni sejak Rabu sehingga genap 40 hari.
Lambat laun gereja memperpanjang masa Prapaskah hingga beberapa hari Minggu sebelumnya. Menjelang abad VIII di Roma, Prapaskah mulai dilakukan pada quinguagesima (lima puluh hari, hari Minggu ke-7 sebelum Paskah), sextagesima (enam puluh hari, hari Minggu ke-8 sebelum Paskah), dan septuagesima (tujuh puluh hari, hari Minggu ke-9 sebelum Paskah). Beberapa Gereja Protestan di Indonesia, termasuk GKP, memulai Prapaskah pada quinquagesima, sehingga Masa Raya Paskah (Minggu Prapaskah s.d. Pentakosta) berjumlah 100 hari. Masa Prapaskah yang sesungguhnya dimulai dari dari Rabu Abu kemudian digeser ke hari Minggu sebelumnya sehingga perhitungan seluruhnya 7 hari minggu Prapaskah. Hari Minggu sebelum Rabu Abu tersebut dalam kalender liturgi disebut sebagai Hari Transfigurasi, yaitu hari dimana Yesus dimuliakan di atas gunung. Dan hari tersebut merupakan akhir dari Masa Biasa. Dengan demikian, penggunaan 7 hari Minggu Prapaskah, mengubah siklus tahun liturgi secara keseluruhan.
Mengenai penyebutan Minggu Prapaskah, beberapa Gereja Protestan, termasuk GKP, mempergunakan istilah Minggu Sengsara. Dalam studi liturgi, memang tidak pernah dikenal adanya Minggu Sengsara yang lebih dari satu hari minggu. Minggu Sengsara hanya dirayakan pada minggu terakhir sebelum Hari Paskah. Sedangkan minggu-minggu sebelumnya, selalu disebut minggu-minggu Prapaskah. Mengapa? Karena, pada minggu-minggu Prapaskah itu Yesus dalam kisah hidup-Nya memang belum menjalani kesengsaraan-Nya. Yesus sendiri memasuki Yerusalem, seminggu sebelum kematian-Nya. Itulah sebabnya minggu terakhir sebelum hari Paskah disebut Minggu Sengsara atau Minggu Palmarum. Jadi penamaan yang lebih tepat adalah: Minggu Prapaskah I sampai dengan Minggu Prapaskah VI atau Minggu Palmarum (Sengsara) – dengan penanda (simbol) penyalaan lilin Prapaskah I-VI, atau dapat juga dengan penamaan Minggu VI sebelum Paskah, s.d. Minggu I sebelum Paskah – dengan penanda pemadaman lilin (hitungan mundur VI – I), hingga pada Jumat Agung dirayakan tanpa simbol cahaya.
Masa Prapaskah secara lengkap sebagai berikut:
- Rabu Abu
Rabu Abu adalah awal masa 40 hari atau pembuka masa Prapaskah (dengan tidak menghitung hari minggu), yakni sebuah masa pertobatan, perkabungan, intropeksi diri, pendekatan diri kepada Tuhan, dan berpuasa. Dalam tradisi Israel, abu melambangkan kefanaan manusiawi (Kej. 3:19; 18:27), agar manusia menyesali diri dan bertobat (Yos. 7:6; 2 Sam. 13:19; Est. 4:3; Ayb. 2:12; Yes. 58:5-7; Yeh. 27:30; Dan. 9:3; Yun. 3:6; bnd. Yl. 2:12-13; Mrk. 1:15).
Prapaskah diawali pada hari Rabu sejak abad VI. Saat itu belum disebut Rabu Abu. Baru akhir abad XI hingga XIII unsur abu mulai digunakan. Penggunaan abu sebagai tanda pertobatan dan perkabungan sebelumnya terbatas pada ritus pribadi. Bahkan hingga tahun 1970, penaburan abu dilakukan sebelum kebaktian. Baru kemudian, abu ditaburkan kepada umat setelah Injil dan khotbah dengan formula “ingatlah, kamu adalah debu dan akan kembali menjadi debu” (Kej. 3:19) atau – di zaman modern digunakan – “bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk. 1:15); masuk dalam liturgi firman.
Lalu, dari manakah abunya diperoleh? Pada abad XII, untuk pertama kali abu diambil dari daun palem yang dikeringkan sejak Minggu Palem/Palmarum setahun sebelumnya. Itulah sebabnya banyak orang Kristen meletakkan daun palem yang dibawanya dari Minggu Palem di patung salib di rumahnya. Dan daun Palem mengandung makna kemenangan.
b. Pekan Suci
Mulai dari Minggu Prapaskah VI atau Minggu Sengsara gereja memasuki Pekan suci hingga Kamis Putih. Dalam Pekan ini, umat diajak untuk mengayati perbuatan Yesus selama di Yerusalem, yang menegur dosa-dosa umat Allah secara keras dan mengundangkan pertobatan bagi Israel.
c. Kamis Putih
Kamis Putih adalah hari raya terakhir di Pekan Suci sebelum memasuki Trihari Suci dan sekaligus dijadikan sebagai penutup masa Prapaskah. Mulai abad VII, Kamis Putih lazim dilayankan dalam tiga kebaktian, sebagai berikut:
- Kebaktian pagi sebagai rekonsiliasi umum bagi pendosa dan penutup Prapaskah. Orang-orang yang telah mengaku berdosa dan menyesalinya diterima kembali setelah beberapa saat lamanya menjalani sanksi gerejawi.
- Kebaktian siang sebagai kebaktian krisma. Minyak dan alat-alat sakramen disucikan untuk kemudian digunakan kembali pada tahun selanjutnya.
- Kebaktian senja sebagai peringatan perjamuan malam terakhir dan pembuka trihari Paskah.
Dalam liturgi Kamis Putih, dilaksanakan pembasuhan kaki sebagai respons umat terhadap pemberitaan Firman. Beberapa orang yang telah dipilih (sebagai anamnesis, dipilih 12 orang wakil jemaat), duduk di tempat yang telah tersedia, dengan bantuan para pelayan, Imam menghampiri mereka, memercikan air ke kaki orang-orang itu dan membasuhnya. Untuk mempertegas keterlibatan umat, bisa dengan melibatkan seluruh umat untuk “saling membasuh” kaki orang disebelahnya.
d. Trihari Suci
Setelah Kamis Putih, tanda dimulainya Trihari Suci, tidak ada lagi perayaan perjamuan di dalam liturgi Jumat Agung dan selama Sabtu Sunyi. Bahkan gereja dibuat menjadi sunyi, senyap dan gelap, tanpa lilin, salib, atau ornamen dan aksesoris dekorasi gereja. Trihari Paskah atau “tiga hari suci Paskah” merupakan hasil perkembangan siklus Paskah pada abad IV. Agustinus (354-430) menetapkan bahwa sejak Jumat Agung hingga Paskah adalah masa sacratissiumum triduum crucifixi, sepulti, suscitati, yakni trihari terkudus untuk penyaliban, pemakaman, kebangkitan.
- Jumat Agung
Kebaktian Jumat Agung dimulai pada tengah hari dan berlangsung hingga sekitar pukul 15.00. Awalnya, dalam perayaan Jumat Agung tidak diadakan perjamuan (eucharistia = pengucapan syukur) yang dipahami sebagai cara gereja turut dalam detik-detik sengsara dan wafat Kristus. Salah satu alasan tidak dilakukannya Perjamuan Kudus adalah karena para Bapa gereja menganggap bahwa tidaklah pantas gereja mengucap syukur di dalam penderitaan Kristus. Oleh karena itu dalam perayaan Jumat Agung hanya ada pengenangan kesengsaraan Kristus, melalui pembacaan kisah sengsara dan wafat Kristus dan dilanjutkan dengan doa syafaat dan ibadah salib.
Namun dalam perkembangan liturgi selanjutnya, gereja melayankan sakramen Perjamuan Kudus pada kebaktian Jumat Agung. Hal ini didasarkan pada pemaknaan sakramen Perjamuan Kudus sebagai anamnesis (mengenang pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib). GKP sendiri melaksanakan sakramen Perjamuan Kudus dalam kebaktian Jumat Agung atas dasar pemahaman tersebut.
- Sabtu Sunyi
Setelah kebaktian Jumat Agung, gereja tetap menjaga keheningan. Bersama umat Tuhan di muka bumi, gereja mengenangkan kesendirian Yesus di dalam makam-Nya. Namun, berpuasa dan berpantang tetap dijalankan di luar liturgi gereja sambil terus merenungkan kesengsaraan Kristus.
- Paskah [1]
Trihari Paskah berakhir pada Sabtu malam, yaitu pada saat dirayakan kebaktian Paskah malam. Di Indonesia, kebaktian paskah malam jarang dilakukan karena biasanya dilaksanakan sebelum fajar. Saat berduka yang diikuti dengan berpuasa dan berpantang selama trihari Paskah diakhiri dengan sorak-sorai nyanyian “Haleluya!” pada hari raya Paskah. Umat tidak lagi berpuasa daging dan telur. Itulah sebabnya, perayaan Paskah dimeriahkan juga dengan makan telur. Selain tradisi masyarakat dalam menyambut musim semi atau kehidupan pertama dengan kiasan telur, telur juga merupakan makanan yang selama 40 hari Prapaskah tidak boleh dimakan.
Ada empat bagian dalam liturgi Paskah, yaitu ritus cahaya, liturgi firman, liturgi baptisan, dan liturgi perjamuan kudus. Dalam ritus cahaya, liturgi diawali dari luar gedung Gereja. Imam, dengan mengenakan jubah putih, membawa lilin Paskah yang menyala untuk kemudian meletakkannya di altar. Sejak abad II, Gereja merayakan Paskah dengan baptisan, peneguhan sidi, dan perjamuan kudus. Perayaan baptisan dan Perjamuan Kudus pada Minggu Paskah mempunyai makna yang dalam bagi kehidupan iman.
II. Kenaikan Tuhan ke Sorga
Pada awal sejarah hingga menjelang abad IV, gereja merayakan Minggu Pentakosta bukan hanya sebagai hari turunnya Roh Kudus. Gereja merayakan Minggu Pentakosta juga sebagai hari kenaikan Tuhan ke Sorga (Kis. 1:1-11). Baru akhir abad IV, Konstitusi Apostolik menjabarkan bahwa pada hari ke-40 setelah Paskah, gereja merayakan Kenaikan Yesus ke Sorga. Hari kenaikan disebut pula perayaan sepuluh hari sebelum Pentakosta, sebab secara kronologis, hari raya Pentakosta muncul lebih dahulu daripada hari Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga. Jelaslah bahwa hari raya Kenaikan Tuhan ke Sorga merupakan perpanjangan hari raya Pentakosta.
Pada hari kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga, pokok teologis dalam liturgi adalah penantian kembalinya Tuhan dan kehadiran Tuhan di dalam persekutuan melalui Roh Kudus yang dicurahkan pada hari Pentaskosta.
III. Pekan Doa Pentakosta
Dalam sepuluh hari sebelum Pentakosta, gereja memberi tempat bagi doa personal namun tetap dilakukan secara komunal sebagaimana yang tergambar dalam Kisah Para Rasul 1:14 “Mereka bertekun dalam doa bersama-sama…”
Gereja mengadakan pekan doa Pentakosta sebagai persiapan menjelang hari raya Pentakosta. Persiapan dilakukan dengan berdoa, renungan tentang Roh Kudus, serta peran dan makna gereja.
IV. Hari Raya Pentakosta
Menurut tradisi Inggris, keagungan masa raya Paskah dimahkotai dengan hari raya Pentakosta. Pentakosta disebut juga Minggu Putih (White Sunday), sebab pada hari itu diperbolehkan melaksanakan pelayanan baptisan. Masa pertobatan umat yang dirayakan sepanjang masa raya Paskah ini berakhir. Peran Roh Kudus di dalam gereja mulai lebih ditonjolkan.
Tema-tema penting dalam Pentakosta adalah pengutusan umat sebagai hasil panen (yakni buah-buah iman) menjadi pokok berdirinya ekklesia (dalam liturgi bisa dimunculkan persembahan syukur tahunan atau simbolisasi dengan buah-buahan segar dan sayuran sebagai dekorasi), dan peran Roh Kudus di dalam membimbing dan memelihara gereja di dalam memberlakukan Kerajaan Allah melalui karunia-karunia Roh Kudus.
Demikian penjelasan singkat mengenai Masa Raya Paskah. Kiranya penjelasan ini dapat berguna bagi menambah wawasan kita selaku umat yang juga dapat menghayati arti dari pentingnya masa raya paskah tersebut. Terutama kita akan memasuki masa raya paskah dengan sebuah penghayatan yang utuh akan peristiwa yang dialami oeh Yesus dua ribuan tahun lalu bagi kita. Semoga bermanfaat bagi kita semua.
[1] Kata Paskah berasal dari kata Yunani Pascha atau Ibrani Pesach, artinya: melewati atau menyeberangi/transitus