MENGHADIRKAN YESUS DALAM KRISIS

Roma 10: 4-15

Banyak ahli Akitab mengatakan bahwa pasal 9 sampai dengan pasal 11 Surat Roma ini adalah suatu bagian yang utuh. Jika pada pasal-pasal sebelumnya Paulus menulis tentang keselamatan yang bersumber dari Allah, maka pada pasal 9-11 Paulus berbicara soal bangsa Israel yang menjadi bagian dari rencana penyelamatan Allah.

Perikop ini dibuka dengan sebuah pernyataan bahwa Kristus adalah kegenapan hukum Taurat. Seperti yang Tuhan Yesus sampaikan, bahwa kedatangan-Nya bukanlah untuk membatalkan atau meniadakan hukum Taurat, tetapi untuk menggenapinya. Paulus menegaskan kembali hal ini dalam suratnya untuk mengingatkan bahwa dasar atau pondasi iman orang percaya harus diletakkan dan dilekatkan pada Kristus dan bukan lagi pada hukum Taurat, meskipun keberadaan hukum Taurat tidak diabaikan begitu saja. Hal ini disampaikan pertama-tama dalam konteks berbicara tentang keselamatan Israel. Umat Israel akan dibenarkan dan diselamatkan oleh iman percaya kepada Kristus, bukan kepada hukum Taurat. Dengan Kristus sebagai dasar keselamatan, maka konsekuensi dari pemahaman itu adalah bahwa keselamatan itu juga berlaku bagi semua orang. Tidak lagi ada pembedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani.

Keberadaan Allah sebagai sumber keselamatan  tidak lagi menjadi jauh dan rumit. Keselamatan dari Allah tidak lagi terkungkung dalam rumitnya hukum Taurat, tetapi ada pada Yesus. Paulus menuliskan, “Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu” (ayat 10:8). Firman itu adalah Allah itu sendiri yang menjelma melalui pribadi Yesus. Dia tidak jauh tetapi dekat dengan kita. Kehadiran Yesus yang dekat dalam kehidupan manusia itu membuat krisis relasi dan ketegangan antara orang Yahudi dan non Yahudi menjadi sirna. Pribadi Yesus membuka cakrawala baru dalam kehidupan umat Allah pada saat itu.

Pemahaman  yang disampaikan Paulus menjadi konkret karena ia juga mendasari tulisannya ini dengan pengalaman spiritual yang pernah dialami oleh dirinya sendiri. Ia yang semula adalah seorang penganiaya orang Kristen diperkenankan untuk mengalami perubahan dan juga menikmati keselamatan dari Allah. Di sinilah kehadiran Yesus Kristus menjadi sangat penting. Kehadiran Kristus sebagai penggenapan hukum Taurat adalah wujud kehadiran Allah di tengah-tengah kehidupan manusia yang akan terus diliputi krisis.

Keberadaan Kristus kita yakini menjadi harapan dalam kehidupan masyarakat kita yang terus ditantang untuk menghadapi persoalan-persoalan yang ada. Ketika kita berjuang untuk menghadapi krisis integritas yang mengakibatkan korupsi merajalela, ketika kita berjuang untuk menghadapi krisis-krisis lain yang ada. Namun tidak hanya sampai di situ. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, terdapat kesan bahwa kabar baik tentang Kristus yang membawa keselamatan kepada semua orang itu harus diberitakan. Dan siapakah orang-orang itu? Secara tidak langsung Paulus ingin mengajak para pembaca surat Roma ini untuk menjadi para pembawa dan pemberita kabar baik itu.

Sebagai pembaca surat Roma di masa kini, kita diutus untuk mengabarkan dan menghadirkan Yesus Kristus dalam kehidupan kita saat ini, termasuk dalam setiap krisis yang ada dalam kehidupan kita. Kita adalah orang-orang yang dipilih dan diutus untuk mendatangkan kebaikan di tengah-tengah dunia yang sedang membutuhkan penyelamatan dari Kristus. Kita, orang-orang yang rapuh, lemah dan terus berjuang menghadapi krisis hidup kita masing-masing, juga dirangkul oleh Kristus. Krisis-krisis dalam kehidupan hanya dapat diselesaikan di dalam dan melalui Kristus. 

UNTUK DIDISKUSIKAN

  1. Bagaimana Saudara secara pribadi dapat menghadirkan Yesus dalam setiap krisis hidup Saudara?
  2. Bagaimana  Saudara sebagai bagian dari masyarakat dapat menghadirkan Yesus dalam setiap krisis yang ada di tengah komunitas atau lingkungan Saudara?  (JPH)