Penjelasan Tambahan KRT: Dibenarkan Oleh Allah Untuk Melakukan Kebenaran

Roma 5:12-18
Disisapkan oleh Pdt. Albert Naibaho, S.Si.

Bapak/ibu sdr/i, pembacaan kita kali ini memiliki judul perikop “Adam dan Kristus”. Demikianlah Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) memberi judul. Bila kita membaca bagian ini, maka secara sepintas kita bisa melihat bahwa terdapat hal yang kontras antara Adam dan Kristus. Secara cepat, dapatlah kita katakan bahwa Adam membawa manusia pada dosa dan Kristus membawa manusia pada keselamatan. Saya kira semua akan sepakat dengan kesimpulan itu. Namun demikian, pandangan tersebut akan membawa kita pada sebuah kesulitan menjawab jika diajukan pertanyaan “Bagaimana mungkin perbuatan satu orang bisa berdampak pada banyak orang?” Ya betul, Adam berdosa, tapi kenapa semua orang jadi turut terbawa pada dosa? Karena itu kita tentu harus memahami apa yang menjadi pemikiran Paulus ketika ia membuat surat ini bagi para pembacanya.

Tidak dapat dipungkiri ketika Paulus memunculkan Adam dalam suratnya ini, maka pembacanya sudah dapat dipastikan terdapat orang-orang Yahudi Kristen di sana. Walaupun tentunya banyak juga orang Yunani atau non Yahudi lainnya yang juga sudah menjadi percaya kepada Yesus. Karena hanya orang Yahudilah yang mengetahui dengan pasti cerita tentang konsep manusia asali yang dinamakan Adam tersebut.

Dalam bagian ini, Paulus hendak mengatakan bahwa “Karena dosa Adam, semua manusia menjadi berdosa dan terasing dari Allah; karena kebenaran Yesus Kristus semua manusia menjadi benar dan hubungan dengan Allah pun diperbaiki”. Perkataannya ini memiliki korelasi dengan yang Paulus sampaikan juga kepada jemaat Korintus dalam I Korintus 15 : 21 – 22, dan bahkan lebih jelas, “Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus”. Dengan kata lain secara singkat dapat dikatakan bahwa Adam membawa pada dosa/ maut; sedangkan Yesus membawa pada keselamatan/ hidup. Namun bagaimana hal itu dapat terjadi? Kenapa perbuatan satu orang dapat berdampak pada orang lainnya? Mari kita lihat pemikiran orang Yahudi.

Gagasan tentang kesetiakawanan (Solidaritas), itu kata kuncinya. Orang Yahudi tidak pernah berpikir tentang dirinya sendiri sebagai seorang individu, melainkan selalu berpikir sebagai bagian dari suatu suku, suatu keluarga atau suatu bangsa. Dalam Perjanjian Lama ada contoh yang sangat jelas mengenai konsep ini. Yaitu peristiwa Akhan, dalam Yosua 7. Pada saat pengepungan kota Yerikho, Akhan telah melanggar perintah Allah dengan menyembunyikan baginya barang-barang rampasan yang seharusnya dimusnahkan. Lalu kota berikutnya yang harus ditaklukkan adalah Ai. Seharusnya kota itu dapat dikalahkan tanpa kesulitan, namun penyerangan itu gagal. Mengapa bisa gagal? Karena Akhan telah berdosa, dan sebagai akibatnya seluruh bangsa itu dicap sebagai orang berdosa dan pantas mendapat hukuman Allah. Dalam pandangan seperti ini, dosa Akhan bukanlah dosa seorang manusia saja, tetapi dosa bangsa itu. Bangsa bukanlah cuma sekelompok individu; melainkan suatu massa/ kelompok. Apa yang seorang individu lakukan, berdampak pada bangsa secara keseluruhan. Ketika dosa Akhan diakui, maka bukan dia saja yang dihukum mati, tetapi seluruh keluarganya. Nah, begitu pula dengan Paulus melihat Adam. Adam bukan seorang individu. Ia adalah seorang dari seluruh umat manusia, dan karena ia salah seorang dari umat manusia tersebut, maka dosanya adalah dosa seluruh umat manusia. Terlebih Adam adalah manusia pertama di bumi ini. Dalam pemahaman Paulus, seluruh umat manusia telah jatuh ke dalam kuasa maut karena pelanggaran Adam. Demikianlah pemikiran Paulus. Sekarang nampak jelas dan kita dapat mengerti mengapa Paulus mengatakan hal tersebut. Ide tentang solidaritas umat manusia ini, Paulus percayai bahwa semua manusia turut berdosa dalam pelanggaran Adam; dan sebagai konsekuensi dari dosa, maut menguasai semua manusia.

Tetapi konsep yang sama namun kebalikannya juga digambarkan oleh Paulus dalam pribadi Yesus yang datang dan mempersembahkan kebenaran yang sempurna kepada Allah. Sebagaimana seluruh umat manusia terlibat dalam dosa Adam, begitu juga semua orang dapat terlibat dalam kebenaran Yesus yang sempurna. Dan sebagaimana dosa Adam telah menyebabkan kematian, maka kebenaran Yesus yang sempurna pun telah mengalahkan maut dan memberikan hidup yang kekal. Paulus menjelaskan bahwa, sebagaimana manusia menjadi satu dengan Adam sehingga berada dalam kuasa maut, maka manusia juga boleh satu dengan Yesus sehingga dibebaskan dari kematian dan mendapat kehidupan. Walaupun hukum Taurat membuat dosa menjadi bertambah, tetapi kasih Kristus telah mengatasi segala penghukuman akibat pelanggaran hukum Taurat. Begitulah Paulus menjelaskan. Dan berdasarkan keyahudian, hal itu tidak dapat disangkal.

Nah, bapak/ibu sekarang mari kita beralih pada refleksi sebagai manusia yang terikat dalam solidaritas dengan Yesus yang telah membenarkan kita sehingga kita terbebas dari penghukuman atau dosa. Apa yang mesti kita lakukan sebagai orang yang telah dibenarkan? Apa yang musti kita lakukan sebagai orang yang hidup dalam anugerah Allah? Sebagai orang yang dipersatukan dengan kebenaran Yesus yang membawa pada kebenaran dan hidup dalam anugerah Allah, maka tentunya kita harus hidup dalam kebenaran dan anugerah itu. Kebenaran dan anugrah Allah kita peroleh bukan dengan usaha sendiri, namun melalui usaha Allah di dalam Yesus melalui pengorbanan dan kematian. Menjaga kebenaran dan anugerah dengan pola hidup benar adalah hal yang tak dapat ditawar-tawar. Hidup yang benar seperti apa, itu pertanyaannya? Hidup yang penuh dengan kesadaran diri bahwa hidup kita ini dipilih Tuhan dan merupakan anugerah. Karena itu, setiap pikiran, ucapan dan tindakan kita, harus selaras dengan kehendak Tuhan sendiri. Roma 12 : 2 membantu kita “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah; apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Dengan berprilaku seperti Roma 12 : 2 tadi, maka sebetulnya kita telah mengupayakan hidup benar di hadapan Tuhan. Percayalah bahwa Allah yang telah mengaruniakan Roh Kudus kepada setiap kita untuk membantu kita mengetahui mana yang baik dan berkenan kepada Allah, dan mana yang tidak baik. Selain itu, jadilah pribadi yang bersyukur atas tindakan Allah yang membenarkan dan menyelamatkan manusia seperti kita.

Bahan Rujukan : Barclay, William. 2003. Pemahaman Alkitab Setiap Hari Surat Roma, BPK Gunung Mulia Jakarta.