Galatia 6: 1-10
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri. Artinya manusia membutuhkan orang lain di dalam hidupnya untuk saling membantu, menolong, dan melengkapi satu sama lain. Menolong adalah suatu tindakan yang tampaknya mudah dilakukan, namun pada kenyataannya tidak banyak orang yang bersedia melakukannya. Ketika kita mengetahui ada seseorang yang membutuhkan pertolongan, pasti muncul perasaan untuk menolong orang tersebut. Akan tetapi, untuk mencapai pada tindakan menolong, seringkali kita melalui proses timbang-menimbang. Perlukah saya menolong orang tersebut? Jika saya menolong mereka apakah nanti saya juga akan ditolong? Jika saya menolong, apakah saya akan dicap sebagai orang yang mencari muka? Serta berbagai pertimbangan lainnya, yang justru akhirnya memicu kita untuk mengurungkan niat menolong.
Dalam Galatia 6: 1-10, Paulus mengingatkan jemaat di Galatia untuk menjaga diri mereka dari dosa dan juga harus saling mengingatkan dan menolong Saudaranya. Paulus mengingatkan kepada jemaat di Galatia agar tidak merasa paling benar, sehingga merasa sombong dan menjatuhkan Saudaranya satu sama lainnya. Jemaat Galatia juga diingatkan agar memiliki perspektif diri yang benar, yaitu supaya setiap orang melihat dirinya tidak lebih penting daripada orang lain. Akan tetapi, tiap-tiap orang harus menyadari bahwa ia juga mempunyai tanggung jawab terhadap hidupnya sendiri dan juga bertanggung jawab atas sesamanya.[1] Benar jika kehidupan diri sendiri adalah penting dan kita perlu memikirkan kehidupan kita agar tetap baik dan benar. Akan tetapi, kita juga bertanggung jawab untuk menolong sesama kita yang mengalami kesulitan dan kesukaran. Hal yang sederhana, yaitu menjadi penolong dan pengingat bagi sesama manusia perlu dilakukan dalam rangka menyadari tanggung jawab sebagai manusia.
Ada sebuah kisah tentang seorang pemuda yang diminta untuk mengecat sebuah perahu yang sudah tua. Pemuda itu membawa kuas dan catnya dan dengan segera mengecat dengan rapi, sehingga perahu tersebut tampak baru. Ketika pemuda itu mulai mengecat, ia menyadari bahwa perahu tersebut ternyata memiliki lubang kecil dan ia pun menambal lubang itu, sehingga perahu tidak lagi bocor. Setelah selesai mengecat perahu tersebut, pemuda itu menerima upah dari tuannya dan pergi. Akan tetapi keesokan harinya, tuan pemilik perahu yang kemarin diperbaiki oleh pemuda tersebut sampai dan membawa cek yang nominalnya besar, lebih dari ongkos mengecat perahu sebelumnya. Pemuda itu terkejut dan berkata, “Tuan sudah membayar saya kemarin untuk mengecat perahu tuan,” lalu tuannya menjawab, “Ini bukan upah untuk mengecat perahu, melainkan upah karena sudah memperbaiki lubang pada perahu saya”. Pemuda itu bingung dan berkata, “Oh, itu hanya pertolongan kecil dan tidak ada maknanya, karena saya sambil mengecat dan melihat ada lubang, maka saya menambalnya. Itu bukan sesuatu hal yang memberatkan dan menyusahkan saya tuan.” Lalu tuannya menjawab, “Ketika saya meminta Anda untuk mengecat kembali perahu tersebut, saya lupa memberitahukan bahwa ada lubang di perahu itu. Lalu, tidak lama anak-anak saya memakainya untuk pergi memancing dan saya panik karena saya pikir jika lubang itu masih ada, maka anak-anak saya pasti mengalami kecelakaan. Akan tetapi, saya sangat bahagia ketika melihat anak-anak saya kembali dengan baik-baik saja. Tanpa Anda sadari, pekerjaan sederhana yang Anda lakukan, menyelamatkan saya dan anak-anak saya.”[2]
Berdasarkan cerita ini, kita mengetahui bahwa terkadang pertolongan yang kecil dan sederhana justru memberikan makna yang sangat luar biasa bagi sesama kita. Seringkali, saat sesama kita dalam keadaan masa sulit, kita mencoba untuk tidak peduli, karena kita beranggapan untuk menolong mereka kita harus melakukan hal yang besar dan mungkin membebankan diri kita sendiri. Padahal, untuk menolong sesama tidak sesulit itu. Kita hanya perlu melakukan hal yang bisa kita lakukan saja dan dari hal-hal yang sederhana. Kita tidak dituntut untuk memberikan apa yang tidak kita miliki, tetapi dari apa yang dapat kita lakukan saat itu dan niat menolong yang penuh dengan ketulusan hati.
Paulus juga mengingatkan, bahwa setiap kita telah dipanggil untuk menyatakan kasih melalui bertolong-tolongan menanggung beban dan berbuat baik selama masih ada kesempatan, khususnya kepada Saudara-Saudara kita. Karena ketika kita tidak jemu berbuat baik dan menolong sesama, kita akan menikmati buah kebaikan tersebut. Lalu apakah dengan begitu berarti kita harus berbuat baik dan menolong agar mendapatkan buah baik? Tentu jawabannya adalah tidak. Jika kita berpikir demikian, maka cepat-cepatlah mengubah pola pikir tersebut. Kita bertanggung jawab menolong dan berbuat baik terhadap sesama kita karena karunia Allah begitu besar di dalam kehidupan kita. Saling tolong-menolong dan berbuat baiklah karena Allah telah berkarya di dalam kehidupan kita. Menolong bukan untuk mendapat pertolongan itu kembali, tetapi menolong sesama karena sudah ditolong oleh Allah.
Allah sudah menaburkan pertolongan-Nya yang luar biasa di dalam kehidupan umat-Nya, maka sikap umat yang sudah diberikan pertolongan perlu memancarkan kembali kebaikan dan pertolongan dari Allah bagi sesamanya. Mulailah dari hal yang paling sederhana dan kecil. Karena pertolongan yang sederhana bermakna bagi orang lain. Mari tinggalkan pemikiran “Jika saya menolong orang lain apakah saya juga akan mengalami kesulitan bagi diri saya sendiri? Jika saya menolong orang lain apakah saya akan mendapat kebaikan dalam hidup saya?”. Akan tetapi, mulai sekarang milikilah pemikiran “Saya menolong dari hal yang sederhana karena Allah telah menolong saya dan karena menolong sesama adalah tanggung jawab saya sebagai manusia.” Mari jadilah orang yang selalu ingin menolong orang lain dari hal yang sederhana namun bermakna, karena Allah sudah menolong kita dengan luar biasa.
PERTANYAAN UNTUK DISKUSI
- Ceritakanlah pertolongan Allah yang luar biasa dirasakan dalam kehidupan Anda dan keluarga!
- Kendala apakah yang menyebabkan seseorang ragu/tidak mau untuk menolong sesamanya?
- Jika kita mengalami kesulitan, dan di saat yang sama ada orang di sekitar kita yang juga mengalami kesulitan, maukah kita menolong orang tersebut? Jika “ya,” mengapa memilih tetap menolong, dan jika “tidak,” sebutkan alasan yang mendasarinya
(GKS)
[1]William MacDonald, Surat Paulus Kepada Jemaat di Galatia, (Sastra Hidup Indonesia, 2018), 47-48
[2]RTS, Small Things that Greatly Impact Other People’s Life, https://youtu.be/-GmqDfGca68,2021 (diakses pada 30 Januari 2022)