Bersyukur Dahulu atau Bahagia Dahulu?

Bacaan Alkitab: 2 Korintus 4:15.

Tentu semua ingat pepatah, “mana yang lebih dahulu, telor atau ayam? Atau jika anda seorang wartawan melihat kejadian kecelakaan, mana yang lebih dahulu anda lakukan? Meliput kejadian dulu atau menolong dahulu?.

Manusia di dunia pasti mengejar yang namanya bahagia. Coba kita renungkan, “kita Bersyukur dahulu baru bahagia, atau kita mencari kebahagiaan dahulu baru bersyukur.” Untuk meraih kebahagiaan, manusia dapat meraihnya dengan banyak usaha. Rasa bahagia itu dapat terlihat di wajahnya, termasuk kita.

Bagaimana dengan rasa syukur?

Kita mampu bersyukur sewaktu kita terbebas dari ancaman, atau selamat dari bahaya, ataupun terluput dari penderitaan. Rasa gembira atau bahagia sangat mempengaruhi suasana hati manusia. Berbeda dengan rasa syukur. Seharusnya kita dapat mengucap syukur tanpa tergantung pada keadaan dan atau suasana hati.Sayangnya bukan menjadi rahasia, jika manusia sulit mengucap syukur kepada Tuhan ketika sedang diperhadapkan pada banyak kesulitan, banyak masalah, dan kekurangan. Pada masa pandemic Covid-19 di bulan pertama ada yang terasa bahagia, karena bisa belajar di rumah. Tiga bulan berlalu mulai muncul rasa bingung. Enam bulan berlalu terasa lelah dan sangat membosankan. Orang tua merasa lelah harus mendampingi anak belajar di rumah. Anak merasa stress karena tidak paham dengan materi yang ditugaskan oleh guru. Sementara itu guru memutar otak untuk berkreasi dan berinovasi menghadapi kenormalan baru. Sungguh tidak mudah mengucap syukur di tengah situasi yang tidak baik.

Namun hari ini kita diingatkan dari kehidupan rasul Paulus untuk mengucap syukur. Sekalipun Rasul Paulus mengalami banyak masa sukar, Rasul Paulus tetap mengucap syukur kepada Tuhan. Hidup sebagai tawanan dan dipenjara karena Injil, mengalami penganiayaan, dan penolakan, dia justru berkata, “Sebab semuanya itu terjadi oleh karena kamu, supaya kasih karunia, yang semakin besar berhubung dengan semakin bayak orang yang menjadi percaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan Allah.” Kiranya keimanan Rasul paulus dapat kita teladani dan kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kita dapat bersyukur dan mewujud nyatakan syukur kita salah satunya dengan berbagi walau dalam keterbatasan sehingga kita bisa menjadi kebahagiaan yang sejati. Amin. (TW)