DIBENARKAN OLEH ALLAH UNTUK MELAKUKAN KEBENARAN

Roma5:12-18

Dalam iman percaya kepada Kristus, kita meyakini bahwa sebagai manusia kita diselamatkan dan dibenarkan dari keberdosaan dengan pengorbanan Kristus di salib. Maka, ketika menyadari hal itu, kita melihat bahwa ada tanggung jawab moril yang seharusnya membuat kita terbeban dalam menjalani hidup  yang  Allah  anugerahkan   bagi  setiap kita. Ketika kita bersama-sama  meyakini   bahwa  dalam  kerapuhan  diri  kita  sebagai  manusia  terhadap  dosa  telah  membuat  kita  seringkali  bertindak tidak benar di hadapan Allah dan tindakan yang tidak benar itu berdampak bagi sesama. Sebagai contoh, ketika kita berdusta maka kita bukan hanya melakukan ketidakbenaran di hadapan Allah, tetapi kita telah merugikan orang lain yang kita dustai. Atau tindakan koruptif yang kita lakukan, agaknya itu juga bukan hanya tindakan ketidakbenaran di hadapan Allah tetapi juga tindakan yang merugikan sesama. Konsekuensi tindakan yang tidak benar, bukan hanya berdampak pada diri sendiri tetapi juga pada sesama.

Pembacaan Alkitab kita hari ini mau membawa kita dalam sebuah perenungan tentang kemanusiaan kita yang berdosa dan dampak dari dosa itu sendiri. Rasul Paulus dalam tulisannya kepada Jemaat di Roma   menegaskan   pengajaran   tentang   anugerah   keselamatan   yang   Allah   berikan   dengan mempertontonkan kemanusiaan kita yang tidak luput dari dosa. Rasul Paulus merefleksikan bahwa sejak mulanya, dosa telah menjadi bagian hidup manusia di dalam dunia. Manusia tidak dapat lepas dari  dosa  dan  dosa  itu  mengikat,  sehingga  menghasilkan  maut  bagi  manusia  (ayat 12).  Bahkan penegasan  tentang  keberdosaan  itu  ditekankan  kembali  oleh  Rasul  Paulus  dengan  mengatakan bahwa  dosa  itu  sudah  ada  bahkan  sebelum  adanya  Hukum  Taurat  yang  diyakini  diberikan  Allah kepada Musa. Hukum Taurat pada akhirnya bukan hanya hukum yang diberikan untuk mengatur cara hidup manusia agar tidak melakukan hal yang tidak benar di hadapan Allah – karena Hukum Taurat itu tidak menjamin manusia lebas dari keberdosaannya (ayat 13-14), tetapi Hukum Taurat juga sebagai cerminan  yang  memperlihatkan  kepada  manusia betapa  berdosanya  mereka  dan  betapa  mereka membutuhkan pengampunan Allah (Alkitab Edisi Studi, 1848).

Maka  Rasul  Paulus mengingatkan  dan mengajarkan kembali bahwa ada  kasih  karunia  yang Allah berikan, yakni pengampunan yang dianugerahkan Allah kepada mereka yang percaya kepada Yesus Kristus yang membawa pengampunan – melalui pengorbanan di kayu salib dan menjadikan manusia “dibenarkan”  yakni  diterima oleh  Allah  (ayat  15-17).  Dengan  demikian,  Rasul  Paulus  menekankan betapa kita semestinya bersyukur atas anugerah yang diberikan Allah bahwa pengampunan itu telah Allah   berikan   melalui   pengorbanan   Kristus   dan   dalam   pengampunan   itu,   manusia   menjadi dibenarkan. Maka ketika sudah diampuni dan dibenarkan, ada konsekuensi yang harus diterima oleh manusia, yakni hidup dalam kebenaran. Konsekuensi logis ini yang harus bersama-sama kita ingat dan kita lakukan dalam kehidupan. Bahwa ketika kita sudah menerima anugerah pengampunan dan pembenaran,  maka  selayaknya  kita  melakukan  hal  yang  benar  di  hadapan  Allah,  yakni  dengan mengikuti  teladan  Yesus  Kristus.  Dalam  khotbah  hari  Minggu  lalu,  kita  diingatkan  untuk  bisa berempati/berbelas kasihan kepada sesama, maka itu menjadi bagian yang dapat kita lakukan sebagai ungkapan syukur dan konsekuensi  sudah  diampuni  dan  dibenarkan oleh Allah. Melakukan apa yang diteladani dan diperintahkan Allah, menjadikan kita hidup dalam kebenaran. Jangan menjadi manusia yang tidak tahu berterima kasih dengan tetap hidup dalam keberdosaan sementara kita sudah diberikan anugerah pengampunan dan pembenaran  oleh  Allah.

UNTUK DIDISKUSIKAN

  1. Faktor   apa   yang  mempengaruhi  kita   sehingga  tidak  bisa  melepaskan  diri dari  keberdosaan  kita?
  2. Hal  konkret  apa  yang  bisa kita lakukan untuk hidup dalam kebenaran? (WAH)