Pertobatan Sejati Mewujud dalam Hidup yang Berbuah

Lukas 13:1-9

Selama Perang Saudara di Amerika Serikat, Joseph Dixon (1827-1869) mulai memproduksi pensil dan ditambah dengan karet penghapus. Pensil tersebut tidak hanya untuk menulis, melainkan juga memperbaiki suatu kesalahan. Ilustrasi singkat tadi mengajak kita untuk merenungkan akan keberadaan kita sebagai pengikut Kristus. Keberadaan kita semestinya menunjukkan adanya pertobatan. Jika seseorang menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka dalam keseluruhan hidupnya, ia akan memperjuangkan hidup yang seturut dengan kehendak Tuhan. Apakah hal ini mudah untuk dilakukan? Tentu tidak. Terlebih mulai dari Minggu Prapaskah I yang lalu kita diajak untuk menghayati dan mengakui dengan jujur akan kelemahan dan ketidakberdayaan kita terhadap dosa dan mewujudkan secara nyata buah-buah dari pertobatan.

Bacaan kita saat ini terdiri dari 2 perikop. Perikop pertama menitikberatkan pada dosa dan penderitaan dengan gambaran tragedi yang mengerikan. Sedangkan, perikop kedua berbicara mengenai pohon ara yang tidak berbuah. Kedua perikop saling berkaitan satu sama lain. Penulis Injil Lukas menulis dari perspektif apokaliptik. Bagi para teolog apokaliptik, zaman sekarang (atau diistilahkan dengan “lama”) sudah sangat rusak sehingga Tuhan harus menggantinya dengan zaman baru agar umat dapat setia pada janji-janji Tuhan. Para teolog apokaliptik mengharapkan Tuhan untuk mengakhiri yang lama dan memulai yang baru dengan adanya

peristiwa kiamat. Para penulis dalam tradisi Yesus memodifikasi skema ini dengan melihat Yesus mengumumkan kedatangan zaman baru tersebut dengan mengaitkannya dengan kedatangan kedua. Adapun, penulis hendak menitikberatkan Injil Lukas ini untuk menolong jemaat mempertahankan iman, hidup, dan kesaksian, serta di dalamnya ada kesempatan untuk bertobat.

Pertobatan dilakukan oleh baik individu maupun komunitas yakni dengan menunjukkan sikap berpaling dari hal-hal yang melanggar kehendak Tuhan, antara lain penyembahan berhala, ketidakadilan dan berbalik ke arah kehidupan beriman yang taat dan menyembah pada Tuhan, berperilaku adil, dan memiliki kesehatian dalam komitmen bersama. Ada dua tragedi mengerikan ketika Pilatus yang mencampurkan darah orang Galilea dengan pengorbanan mereka yang tampaknya merujuk pada pembantaian sekelompok peziarah Galilea di Yerusalem. Ini memberikan gambaran karakter Pilatus yang brutal dan dikaitkan dengan peristiwa pengadilan Yesus. Kemudian dilanjutkan dengan Yesus yang menyebutkan menara Siloam yakni sebuah menara di tembok di sekitar Yerusalem. Hal ini bermakna bahwa terdapat sebuah bangunan runtuh tanpa peringatan dan menghancurkan delapan belas orang Yerusalem yang malang. Artinya, bahwa mereka dibunuh bukan karena dosa mereka. Mereka dibunuh secara brutal oleh orang Romawi. Akan tetapi, Yesus hendak menegaskan bahwa pertobatan itu sangat penting, jika tidak maka akan ada kebinasaan. Hal ini dipahami dengan mengaitkan ke Lukas 12:1-59 akan pentingnya pertobatan dan kesetiaan. Bagian berikutnya di ayat 6-9 menitikberatkan pada pentingnya segera bertobat. Seorang pemilik menanam pohon ara dan setelah tiga tahun, datang mencari buahnya. Karena tidak menemukan apa pun, pemiliknya memerintahkan tukang kebun untuk menebangnya. Tukang kebun, bagaimanapun, meminta satu

tahun lagi untuk memberi waktu kepada tukang kebun untuk menyiapkan tanah. Pada akhir tahun, jika pohon tidak berbuah, maka akan ditebang. Para pendengar itu adalah gambaran pohon ara. Waktunya telah tiba bagi mereka untuk menghasilkan buah pertobatan. Semestinya Tuhan dapat mengakhiri zaman sekarang (lama). Namun, Tuhan memberi mereka waktu dan kesempatan.

Minggu-minggu Prapaskah yang sedang kita hayati ini ditunjukkan dengan pertobatan menjadi momen untuk introspeksi diri. Bagaimana hidup kita sebagai pribadi, bagian dari keluarga, persekutuan, bagian dari masyarakat/bangsa sehingga kita dapat menggunakan kesempatan untuk menunjukkan pertobatan. Pertobatan yang diwujudkan melalui buah-buah yang berdampak secara positif dalam relasi dengan sesama, dengan alam, terlebih dengan Tuhan.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI

  1. Ceritakan      pengalaman      dan      kesan      Saudara dalam penghayatan minggu-minggu Prapaskah!
    1. Sebutkan upaya yang Saudara lakukan dikaitkan dengan pertobatan!

(TMG)