Kenalilah Kebenaran dan Melangkahlah di Atasnya

Lukas 4:1-13

Ilmu Etika (Filsafat Moral) mengenal 2 pra-syarat pengambilan keputusan etis, yaitu: (1) Pengenalan Faktual dan (2) Pengenalan Konseptual. Kedua pra-syarat ini wajib dipenuhi untuk dapat mengambil sebuah keputusan etis. Pra-syarat yang pertama mewajibkan setiap pengambil keputusan etis untuk benar-benar mengenali segala data dan fakta yang berkaitan dengan sebuah peristiwa tertentu, biasanya dengan menjawab pertanyaan terkait: siapa, apa, kapan, dan di mana. Pra-syarat yang kedua mewajibkan untuk benar-benar membekali diri dengan pemahaman yang benar tentang istilah-istilah ataupun konsep-konsep tertentu yang terkait dengan peristiwa tertentu. Misalnya: jika suatu peristiwa dikaitkan dengan kata “pencurian”, maka apakah yang dimaksud dengan “pencurian” menurut undang-undang. Harapannya, dengan dua jenis pengenalan ini, maka setiap keputusan yang diambil adalah keputusan yang bijaksana.

Kisah tentang Tuhan Yesus yang dicobai oleh Iblis (bahasa Yunani: diabolou, artinya penggoda) menampilkan percakapan antara Tuhan Yesus dan Iblis. Pada kisah ini ada 3 lokasi yang menjadi latar belakang Iblis meminta Tuhan Yesus melakukan sesuatu. Kita bahkan bisa merinci lagi tentang apa saja yang disebutkan oleh Iblis di tiga lokasi tersebut. Dengan demikian “siapa, apa, kapan, dan di mana” dapat kita temukan pada bagian ini. Inilah yang disebut sebagai Pengenalan Faktual. Selanjutnya, kita menemukan ada 3 kali Iblis meminta Tuhan Yesus melakukan sesuatu, lalu Tuhan Yesus memberikan tanggapan-Nya. Pada percakapan ini Tuhan Yesus selalu memberikan jawaban dengan rumusan “ada tertulis… (ayat 4), ada tertulis… (ayat 8), ada Firman… (ayat 12)”. Jawaban ini mengisyaratkan bahwa pilihan tindakan-Nya didasari pada Firman, bahkan Tuhan Yesus menyisipkan bahwa mestinya siapapun (termasuk Iblis) haruslah tunduk pada Firman itu. Inilah yang disebut sebagai Pengenalan Konseptual. Terlepas dari penghayatan kita bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan, kita bisa belajar dari perikop ini bahwa Tuhan Yesus benar-benar mengenali hal-hal yang terkait dengan kondisi faktual dan juga amat menguasai konsepnya, untuk kemudian Ia memberikan jawaban atas permintaan Iblis. Ini adalah pembelajaran bagi kita semua untuk benar-benar dapat memberikan jawaban yang sesuai dan bijaksana. Dalam konteks perikop ini, jawaban Tuhan Yesus adalah jawaban yang baik, benar, dan tepat.

Kehidupan yang kita jalani saat ini penuh dengan banyak peristiwa, yang harus kita sikapi secara bijaksana. Ada banyak hal yang berseliweran di sekitar kita, ada banyak istilah yang benar-benar harus kita pahami maknanya. Kita lihat beberapa contoh, pertama: vaksinasi. Kita ingat bersama bahwa pada saat awal mula pemerintah mencanangkan vaksinasi untuk menangani pandemi Covid-19, ada begitu banyak informasi yang berseliweran. Ada yang mengaitkan vaksinasi ini dengan upaya global menanamkan chip anti-Kristus, yang uniknya, banyak orang Kristen percaya hal ini sehingga ikut-ikutan tidak mau divaksin. Padahal, upaya mengenali konsep tentang vaksin itu sendiri tidak dilakukan. Kedua: pada bulan Januari tahun 2022 ini paling tidak ada 2 kasus pengeroyokan yang diawali oleh provokasi seseorang, yang mengakibatkan kerusakan kendaraan dan kematian korban. Atas dasar provokasi tanpa mencari kebenaran, maka seseorang yang dituduh mencuri lalu dikeroyok hingga tewas.

Dua contoh itu menggambarkan betapa lemahnya warga masyarakat dalam memahami fakta dan konsep, yang mengakibatkan lemahnya juga tindakan yang diambilnya. Ini menjadi pelajaran sangat berharga bagi kita semua bahwa sebelum kita mengambil sebuah keputusan, sebelum kita memilih untuk bertindak sesuatu, maka kenalilah dan pahamilah betul-betul fakta dan konsepnya. Mari belajar bersama dari Tuhan Yesus untuk mengambil jawaban dan keputusan secara hati-hati dan bijaksana. Mari mengenali kebenaran itu sendiri dan mari melangkah di atas kebenaran.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI

  1. Silakan berbagi pandangan terkait percakapan antara Tuhan Yesus dan Iblis di dalam perikop ini!
  2. Faktor eksternal dan internal apa saja yang memengaruhi seseorang untuk dapat mengambil keputusan?
  3. Apa yang harus kita lakukan saat kita belum benar-benar dapat mengenali kondisi faktual dan konseptual?