IBRANI 7:23-28
Indonesia, negara yang beberapa orang menyebutnya sebagai surga, sesungguhnya memang negara yang begitu luar biasa. Negara ini dibangun oleh para pendahulu yang juga luar biasa, yaitu para pemuda yang menjadi motor penggerak perjuangan. Untuk konteks kita saat ini, negara ini sangat layak untuk kita jaga, pelihara, dan terus kita perjuangkan keutuhannya. Sebagai umat Allah, perjuangan menjaga keutuhan Indonesia adalah wujud syukur dan bakti kita kepada Allah. Indonesia adalah berkat Allah yang harus kita jaga.
Bagaimana kita menghayatinya dengan bercermin dari perikop ini, Ibrani 7: 23-28? Memang benar bahwa perikop ini tidak secara tegas berbicara tentang semangat nasionalisme, tentang kebangsaan, dan sejenisnya. Namun demikian perikop ini menjadi insipirasi penting yang menjadi dasar kita bersikap, dalam banyak aspek kehidupan kita.
Perikop ini adalah salah satu bagian dari pengajaran Iman Kristen tentang posisi Tuhan Yesus dalam relasi antara kita (umat Allah) dengan Allah. Penulis Surat Ibrani meyakini betul bahwa Tuhan Yesus adalah Pengantara (ay. 25) sempurna (band. ayat 26-28) antara kita dengan Allah. Dengan tanpa cela-Nya, maka Tuhan Yesus menjadi Imam Besar yang sempurna. Ia tidak perlu berulang kali melakukan pengurbanan anak domba sebagai simbol penebusan, karena Ia sendiri telah menjadi penebusan sempurna itu. Dengan demikian pengurbanannya adalah satu kali dan sempurna untuk selama-lamanya, sebagaimana hal ini juga kita nyatakan dan yakini setiap kali kita merayakan Perjamuan Kudus. Apa konsekuensinya bagi hidup kita?
Secara iman, kita meyakini bahwa kini kita tidak lagi hidup di bawah bayang-bayang maut. Tidak lagi dijajah oleh dosa. Kita telah dimerdekakan. Oleh karenanya kita juga berjanji setia hidup sesuai dengan Hukum Kasih. Hidup di dalam Kebenaran Allah, sebagai wujud syukur kita, rasa terima kasih kita kepada Allah. Alur berpikir seperti itu juga berlaku bagi kita saat ini yang hidup di Indonesia, yaitu bahwa Allah telah mengaruniakan kita negara yang luar biasa indah ini. Jauh sebelum proklamasi kemerdekaan, para pemuda menyadari betul bahwa negara ini adalah berkat dan pemberian yang luar biasa dari Allah atas setiap penduduknya. Oleh karena itu nenek moyang kita bersyukur dalam bentuk bersumpah setia menjadi satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Pada gilirannya, Allah melengkapi berkat-Nya bagi Indonesia dalam wujud memerdekakan kita dari kuasa penjajahan bangsa asing. Kita yang hidup saat ini sudah selayaknya bersyukur dengan cara menjaga dan memelihara keutuhan Indonesia.
Satu hari menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda, kita berkesempatan menghayati ulang bahwa Indonesia adalah wujud berkat yang begitu luar biasa, pemberian Allah bagi kita. Oleh karena itu sebagai orang-orang yang hidup di dalamnya, kita sepatutnya bersyukur atas Indonesia, dengan cara mengabdikan diri kita sebagai pemersatu-pemersatu bangsa, pribadi-pribadi yang terus berjuang demi keutuhan Indonesia. Ketika saat ini kita menghadapi ancaman perpecahan, potensi-potensi perusak kesatuan bangsa, maka inilah waktunya kita menunjukkan sumbangsih nyata kita bagi Indonesia. Pandanglah para pendahulu bangsa ini yang telah bertaruh nyawa demi kita yang hidup di masa kini. Jadikanlah itu sebagai penggerak perjuangan kita agar kita bisa mewariskan Indonesia ini bagi generasi-generasi penerus.
PERTANYAAN UNTUK DISKUSI
- Pengalaman apa saja yang menandakan bahwa Indonesia adalah berkat Allah bagi Anda?
- Apa yang Anda hayati dari kemurahan Allah yang berkenan membuat Anda terlahir di Indonesia?
- Nilai-nilai apa saja yang dapat kita kembangkan untuk mensyukuri berkat Allah berupa Negara Indonesia bagi kita?
(SST)