EFESUS 4:25 – 5:2
Alkisah, ada seorang yang sangat kaya raya jatuh sakit. Banyak tabib sudah datang untuk mengobatinya, namun tidak ada satu pun yang berhasil, malah sakitnya semakin parah. Kemudian, datanglah tabib terakhir. Sang tabib berkata dengan lembut kepadanya dan mengungkapkan bahwa sumber sakitnya terletak pada matanya. Dari mata sebelah kanan mempengaruhi seluruh tubuh sampai pada perutnya. Apa yang ia lihat berdampak pada kesehatannya. Untuk bisa memperbaiki matanya, ia harus konsentrasi hanya pada satu warna, yaitu warna hijau. Sang tabib menyarankan agar orang kaya itu tidak membiarkan matanya melihat warna lain selain warna hijau. Orang kaya itu akhirnya memanggil sekelompok pelukis dan tukang bangunan lalu membeli ratusan kaleng cat berwarna hijau untuk mereka mengecat semua benda atau makhluk yang akan ia lewati atau temui. Setelah beberapa hari, sang tabib kembali untuk menemuinya. Dan karena tabib itu menggunakan pakaian warna merah, ia pun disiram cat agar terlihat menjadi berwarna hijau. Mata sang tabib memandang semua yang ada di kamar orang kaya itu, dan semua, termasuk perabotan emas, menjadi berwarna hijau. Bukan marah karena mendapat siraman cat berwarna hijau, ia justru tertawa dan berkata: “kalau saja Anda membeli kacamata hijau yang harganya tidak terlalu mahal, Anda bisa menyelamatkan tembok, pohon, kursi, dan semua kekayaan Anda. Anda tidak bisa mengecat dunia menjadi warna hijau.[1]
Kisah orang kaya dan warna hijau di atas menggambarkan sifat sebagian besar manusia. Banyak orang ingin menjadi lebih baik, namun mereka fokus dan tergantung pada hal-hal di luar dirinya sehingga bukan mengubah diri sendiri, tetapi malah mengubah orang lain. Mereka lupa ada hal yang lebih penting, yakni mengubah diri mereka sendiri. Dan sebagai orang percaya, kita diingatkan oleh surat rasul Paulus kepada jemaat di Efesus mengenai perubahan diri menjadi manusia baru di dalamTuhan.
Bacaan kita hari ini menekankan pada perubahan diri lewat perkataan dan perbuatan. Ketika menjadi manusia baru yang dibarui di dalam roh dan pikiran kita (ay. 23), pembaruan itu menjadi nyata dalam tindakan. Kita tidak lagi berkata dusta melainkan mengungkapkan kebenaran (ay. 25). Ketika ada banyak kepalsuan, kebohongan di dunia, memang akan sulit bagi kita untuk mengubahnya. Sehingga, yang perlu dilakukan adalah mengubah diri sendiri, terutama dalam lingkungan jemaat. Sebagaimana surat rasul Paulus ini diarahkan pada jemaat di Efesus, mereka diingatkan bahwa gereja semestinya menjadi tempat untuk menyiarkan kabar baik, berita benar dan jujur, terlebih antar anggota jemaat. Semuanya karena hidup orang percaya dituntun oleh kuasa Roh Kudus, sebab perubahan membutuhkan proses. Dalam proses itu mereka perlu tekun berdoa dan berserah pada kuasa Tuhan sehingga tidak ada cela untuk Iblis menguasai mereka (ay. 27).
Cela yang paling mudah bagi Iblis menguasai adalah ketika kita belajar dan berusaha untuk berubah sementara kita memandang bahwa orang lain tidak melakukan hal yang sama, kemudian kita emosi dan menjadi marah (ay. 27). Itu sebabnya jika kita kesal, jangan dibiarkan berlarut-larut, menumpuk menjadi dendam dan amarah. Dalam teks Yunani, kata yang diterjemahkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia dengan “amarah” adalah kata parorgismos[2]. Kata ini hanya satu kali dipakai dan berdampak pada masa depan (future). Kata ini mengacu pada kemarahan yang disertai jengkel dan geram. Seseorang yang ada pada posisi ini bisa menunjukkan senyuman tapi dalam hatinya menyimpan kegeraman, karena sudah bersifat dendam atau marah yang ditahan dan akan dapat meluap suatu hari nanti. Ketika marah, atau sampai pada amarah, perkataan kotor dapat keluar dari mulut, sehingga jemaat juga diingatkan untuk memakai perkataan yang baik, yang tujuannya untuk membangun pribadi orang lain dan mereka yang mendengarnya mendapat kasih karunia (ay. 29).
Mengenai perbuatan, rasul paulus menekankan mengenai kerja (28). Lebih baik bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik daripada mencuri. Mereka yang dulu terbiasa untuk mencuri, perlu belajar untuk mengubah kebiasaannya itu dan menjadi manusia baru yang mau bekerja keras dan benar agar ia diberkati dan dapat menjadi berkat bagi orang lain yang membutuhkan. Seluruh perubahan sikap lewat perkataan dan perbuatan perlu ditunjukkan secara nyata agar kita tidak mendukakan Roh Kudus yang telah menuntun kita sejak kita percaya dan menyerahkan hidup kita pada Tuhan Yesus. Hidup kita perlu ditunjukkan sebagai “Penurut-penurut Allah”, artinya kita seperti anak yang penurut kepada Allah Bapa yang mengasihi kita dan memberi banyak hal pada kita (5: 1). Kita diminta untuk meneladan Yesus yang telah menunjukkan sikap-Nya yang setia pada kehendak Bapa hingga mau berkorban bagi manusia dan mati di kayu salib. Jangan-jangan selama ini kita lebih sering memberontak daripada menuruti kehendak Allah Bapa.
Sebagai umat Tuhan yang terhimpun dalam Gereja Kristen Pasundan, kita diingatkan bahwa kita hidup di wilayah Jawa bagian barat (Tanah Pasundan). Jumlah anggota jemaat memang tidak sebesar sinode gereja lain yang kemudian mucul di wilayah ini. Namun demikian, kita perlu terus mempertahankan dan menunjukkan sikap hidup yang selaras dengan perubahan sebagai Manusia Baru dalam Yesus Kristus. Sebab bila kita mau mengubah diri sendiri daripada mengubah orang lain, kita tentu tergolong sebagai “penurut-penurut Allah” karena kita mau menjadi anak-anak yang menuruti kehendak Bapanya.
PERTANYAAN UNTUK DISKUSI
- Jelaskan menurut Saudara, apa yang membuat orang seringkali sulit menahan perkataan kotor dan bagaimana cara mengubahnya?
- Jelaskan menurut Saudara, apa yang membuat orang seringkali sulit menahan amarah dan bagaimana cara mengubahnya?
- Sebagai gereja, hal nyata apa yang perlu dilakukan atau dikembangkan untuk dapat membangun kehidupan jemaat yang menunjukkan perubahan sikap sebagai Penurut-penurut Allah?
(ENT)
[1]https://philipchircop.wordpress.com/2015/07/29/you-cannot-paint-the-whole-world-green/