KECIL, TAPI BERHARGA BAGI SESAMA

2 KORINTUS 8 : 7-15

Di bulan Januari yang lalu, bangsa Indonesia tidak henti-hentinya mengalami bencana. Bencana alam silih berganti terjadi. Mulai dari longsor di Sumedang, gempa bumi di Sulawesi Barat, banjir di Kalimantan Selatan. Meski ini berkaitan dengan struktur tanah yang rawan terjadinya bencana alam atau bisa jadi karena ulah manusia yang abai untuk merawat dan bersahabat dengan alam. Namun, peristiwa ini menyisakan penderitaan manusia. Manusia kehilangan rumah, harta benda, anggota keluarga. Mengungsi bersama banyak orang menjadi pilihan yang mesti dilakukan. Merespons kejadian-kejadian ini banyak di antara masyarakat serentak membuat kelompok penggalangan dana dan kemudian menyalurkan kepada mereka yang membutuhkan. Kelompok-kelompok yang ada mungkin bukan hanya saat itu saja, melainkan ada kelompok sebelumnya dan menggunakan situs seperti kitabisa.com yang merupakan situs donasi dan penggalangan dana untuk inisiatif, campaign, dan program sosial. Situs ini menggugah kepedulian orang untuk memberikan bantuan, meski dalam jumlah yang sangat kecil. Meski jumlahnya kecil, tetapi bantuan yang dikumpulkan itu sangat berharga bagi mereka yang membutuhkan.

Dalam sebuah tafsiran[1] menyebutkan bahwa aspek penting dari pelayanan rasul Paulus ialah mengumpulkan dana untuk orang miskin di Yerusalem. Pengumpulan dana tersebut bukan hanya memenuhi beberapa kebutuhan ekonomi -jemaat Yahudi yang notabene lebih miskin dibandingkan dengan jemaat yang berlatar non-Yahudi-, melainkan juga memperkuat persatuan orang Kristen Yahudi dan non-Yahudi. Pendekatan yang dilakukan rasul Paulus untuk mengumpulkan dana bagi orang miskin memiliki implikasi yang mendalam dalam penghayatan akan kasih Kristus dan bagaimana berita Injil itu diwartakan. Apa yang dituliskan dalam bacaan kita saat ini, ada kata charis (Yun.) yang diterjemahkan kasih karunia memberikan petunjuk betapa pentingnya merefleksikan kasih karunia Kristus yang melimpah dan yang semestinya diwujudkan dalam kemurahan hati kita.

Jemaat Korintus diajak untuk melihat apa yang sudah ditunjukkan oleh jemaat Makedonia, yang meski miskin dan menderita, tetapi melimpah dengan kekayaan yang mewujud dalam kemurahan hati bagi orang lain (2 Kor. 8: 1). Jemaat Makedonia telah memohon kepada Paulus dan rekan-rekan sekerjanya untuk juga membagikan dan mendukung pelayanan orang-orang kudus (2 Kor. 8: 4) dan juga menegaskan bahwa Paulus mengirim Titus untuk melengkapi pengumpulan dana yang telah dia kumpulkan dari Korintus (2 Kor. 8: 6).

Kini Paulus mendesak jemaat Korintus untuk dapat mengikuti teladan jemaat Makedonia yang berlimpah kasih karunia. Mereka sudah “melimpah” dalam iman, perkataan, pengetahuan, dan kasih yang dimiliki sesama orang Kristen untuk mereka – jadi bagaimana dengan kasih karunia yang melimpah dalam diri mereka (2 Kor. 8: 7)? Paulus menjelaskan bahwa ini bukanlah sekedar perintah, melainkan sebuah tantangan yang mesti dibuktikan. Apakah karakter sesungguhnya jemaat Korintus.

Keteladanan jemaat Makedonia dan tantangan yang diberikan ke jemaat Korintus berdasar pada kasih karunia Yesus Kristus. Ia yang menjadi teladan, sebagaimana disebutkan … bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya (2 Kor. 8: 9). Sama seperti yang diungkap dalam Filipi 2:1-11, Ia mengosongkan dirinya bahkan sampai mati di kayu salib agar Ia dimuliakan dan kita juga dapat berbagi dalam hidupNya dengan sesama satu sama lain.

Melanjut ke ayat 10 dan 11 menjadi sebuah gambaran bahwa jemaat Korintus sudah memulai kegiatan pengumpulan dana yang semestinya dilanjutkan dan diselesaikan. Yang terpenting bagaimana mereka melakukannya dengan kerelaan. Juga memperhatikan adanya keseimbangan ketika mereka saling berbagi kepada mereka yang miskin dan membutuhkan.

Bacaan saat ini mengajak kita selaku umat Tuhan untuk kembali merefleksikan kasih karunia Yesus Kristus. Ia yang bukan hanya mati di kayu salib, tetapi memberikan kehidupan dengan cara pandang yang baru seturut dengan kuasa kebangkitanNya. Juga peristiwa Pentakosta yang belum lama kita lakukan justru RohNya semakin mengobarkan dan meneguhkan kita bahwa kasihNya ada dalam diri kita dan sepatutnya kita bagikan agar banyak orang dapat merasakan dan mengalami cinta kasihNya. Juga kemurahan hati bagi sesama yang membutuhkan.

Di pengantar sebelumnya menyebutkan kelompok orang atau situs penggalangan dana yang berupaya untuk menggugah kepedulian yang semestinya penggerak itu muncul dari kita sebagai gereja yang terus bergerak secara dinamis. Gereja yang menjawab tantangan jaman. Gereja yang semakin memberi warna dan mengajak semua bagian masyarakat untuk terus peduli dan mengikis ego masing-masing. Gereja yang mengumpulkan ‘sedikit demi sedikit’ kasih karunia Tuhan tetapi sangat berdampak dan berharga bagi sesama.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI Bagaimana Saudara merefleksikan ayat 9 dalam kehidupan Saudara? Ceritakan!


[1] https://www.workingpreacher.org/commentaries/revised-common-lectionary/ordinary-13-2/commentary-on-2-corinthians-87-15-3