MENGHADAPI RAKSASA KEHIDUPAN

“Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel… Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau… supaya seluruh bumi tahu bahwa Israel mempunyai Allah” (1 Samuel 17: 45-46).

Cerita Daud mengalahkan Goliat telah kita dengar semenjak masih sekolah minggu. Banyak dari kita yang mungkin beranggapan bahwa cerita ini mengajarkan kita untuk bisa menjadi seorang yang berani seperti Daud; namun sesungguhnya, cerita ini bukanlah tentang Daud dengan keberaniannya. Keberanian Daud ini bukanlah berasal dari keyakinan Daud atas kekuatan fisiknya atau kemampuannya dalam berperang. Ada hal lain yang memberikan Daud keberanian dalam melawan raksasa bernama Goliat ini, yaitu: Iman kepada Tuhan.

Dalam bukunya “Facing The Giants”, Max Lucado mengatakan bahwa raksasa zaman sekarang, bukanlah Goliat yang terlihat kasat mata berbadan besar. Raksasa zaman ini tak kasat mata. Kita tidak tahu berapa tinggi badannya, berapa berat tubuhnya, dan apa kelemahannya. Tetapi, kita mengenal Goliat kita masing-masing. Kita mengenali derap langkahnya dan gelegar suaranya. Ia mendatangi kita dengan melalui hari-hari yang suram, permusuhan, penolakan, kegagalan, kepedihan, hubungan yang gagal, harapan yang kandas, hutang tagihan yang tidak dapat dibayar, kehilangan pekerjaan, orang-orang yang tidak dapat disenangkan, kebiasaan buruk yang tidak dapat ditinggalkan, kesalahan yang tidak dapat dilupakan, dan ketidakpastian masa depan. Terlebih pada saat ini di tengah situasi pandemi Covid-19 yang belum dapat diketahui kapan akan berakhir. Raksasa itu seakan bertambah besar dan menghantui pikiran, cara pandang, menimbulkan depresi dan bahkan mengalihkan fokus hidup kita. Namun, sebagaimana Daud mampu menghadapi Goliat ketika Allah menyertainya, demikian pula kita akan mampu menghadapi raksasa dalam hidup kita bersama Allah.

Selama 40 hari setiap pagi, dan petang Goliat tampil dan mendekati tentara Israel untuk menantang dengan sombong kepada tentara Israel. Hal ini merupakan bentuk intimidasi, perang mental agar mematahkan semangat, menimbulkan kecemasan dan ketakutan bagi tentara Israel. Begitu juga dengan raksasa Goliat pada saat ini juga akan mengganggu pikiran pertama di pagi hari hingga kecemasan di petang hari. Dia mengganggu hari-hari kita, dan merenggut kegembiraan dan kedamaian. Namun sebaliknya Daud tidak melihat Goliat sebagai suatu masalah yang harus ditakuti. Dia melihat bahwa Allah jauh lebih besar dan berkuasa, dan Daud yakin dengan pernyertaan Tuhan, pastilah Goliat dapat dikalahkan. Fokus tentara Israel adalah raksasa Goliat yang tinggi besar, sedangkan fokus Daud adalah pada Allah yang besar yang dapat mengalahkan setiap permasalahan yang ada. Fokus pada raksasa, kita akan tersandung, fokus pada Allah, raksasa akan tumbang.

Mengapa Daud begitu yakin dengan penyertaan Tuhan ? Dalam hidupnya sebagai gembala, Daud mengenal Tuhan secara pribadi dengan sangat baik dan telah merasakan penyertaan Tuhan ketika menghadapi singa dan beruang yang datang mengganggu kawanan ternaknya. Dengan pemahaman, keyakinan dan pengalaman iman bersama Tuhan telah meneguhkan hati Daud untuk maju menghadapi, melawan dan mengalahkan Goliat tanpa merasa gentar sedikitpun. Hingga akhirnya Allah menyerahkan dan membinasakan Goliat di tangan Daud, dan dengan kematiannya itu Tuhan menunjukkan kehadiran dan kuasaNya.

Seperti halnya Daud menghadapi raksasa Goliat, mungkin pada saat ini kita pun dihadapkan pada raksasa masalah dan tantangan, terlebih dalam situasi pandemi saat ini. Arahkan perhatian pada Tuhan dan bukan semata pada masalah. Kenalilah Tuhan secara pribadi dengan mendalam, yang akan meneguhkan, menguatkan hingga menumbuhkan pengalaman iman dalam setiap kesulitan hidup yang dihadapi. Mengenal Allah bukan sekadar melibatkan pemahaman, tetapi juga melibatkan pengalaman berjalan bersama Dia dalam menghadapi ‘raksasa-raksasa’ masalah dan kesulitan hidup. Mari kita menggunakan pengalaman-pengalaman sulit kita sebagai kesempatan untuk merasakan pengalaman iman bersama TUHAN!. (SRA)