ROMA 12:9-16B

“Saya sebenarnya sudah mengampuni dia.. karena saya mengasihi dia.. Tapi jika saya harus seperti dulu lagi seperti sebelum ada masalah itu.. aduh, maaf.. saya tidak bisa.. sulit rasanya untuk bisa seperti dulu lagi.. ”.
Kasih atau mengasihi adalah kata yang sangat melekat dengan kehidupan orang percaya. Kasih dan mengasihi menjadi kata yang sangat penting dan berarti bagi orang percaya. Namun kendati kata kasih dan mengasihi itu sangat penting.. ternyata banyak orang percaya mengalami kesulitan dalam mengejawantahkan tindakan mengasihi. Dengan kata lain, teori itu mudah, tetapi praktiknya sangat sulit. Seperti ungkapan di atas.
Paulus menulis surat ini sekitar tahun 60M. Waktu itu jemaat Roma sedang dalam masa pertumbuhan. Melalui surat ini Paulus mempunyai harapan agar kesatuan yang ada dalam jemaat Roma berdampak pada jemaat di sekitarnya, seperti jemaat Spanyol. Persoalan besar yang terjadi di jemaat Roma saat itu adalah tentang relasi antara kelompok Yahudi dan non Yahudi. Kedua kelompok ini sedang bersitegang. Kelompok Yahudi merasa sebagai bangsa pilihan Allah. Kelompok non Yahudi menganggap kelompok Yahudi hanyalah kaum imigran. Kelompok non Yahudi ingin memiliki posisi yang lebih tinggi dalam jemaat. Ini adalah tantangan buat Paulus. Kepada jemaat di Roma Paulus memberikan nasihat-nasihat praktis dan nasihat itu tentunya berlaku juga bagi setiap orang percaya.
- Pertama-tama Paulus menasihatkan, agar tindakan kasih itu jangan pura-pura. Kasih itu harus tulus, ikhlas, bukan sandiwara. Dalam melakukan kasih harus murni tidak ada maksud tersembunyi dibalik tindakan kasih. Misalnya ingin mendapatkan sesuatu, atau sebagai bentuk pementingan diri sendiri. Kasih yang berlaku harus benar-benar tulus tidak dibuat-buat dan keluar dari hati nurani yang murni dan demi kepentingan orang lain.
- Paulus meminta jemaat di Roma agar menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik. Barclay mengatakan bahwa salah satu pelindung dosa adalah rasa terkejut atas tindakan dosa itu. Seperti sebuah alarm yang mengingatkan bahwa telah terjadi tindakan dosa. Paulus menggunakan kata-kata yang kuat. Dikatakan, bahwa tidak ada kebajikan yang berhasil jika tanpa pengorbanan. Mereka harus membenci yang jahat dan mengasihi yang baik.
- Paulus meminta kedua kelompok itu untuk saling mengasihi dalam kasih persaudaraan. Istilah kasih yang dipakai Paulus adalah storge (kasih persaudaraan). Seharusnya kedua kelompok di jemaat Roma menyadari bahwa sebagai orang percaya mereka adalah satu. Satu di dalam Allah Bapa.
- Mereka harus saling mendahului dalam memberi hormat. Kesulitan yang dialami gereja-gereja dari waktu ke waktu adalah tentang hak-hak, kewajiban dan gengsi. Biasanya dalam Gereja ada yang merasa tidak mendapat tempat yang layak, ada juga yang merasa diabaikan atau tidak dihargai. Padahal tanda kekristenan yang sejati adalah kerendahan hati.
- Sebagai persekutuan Paulus menantang mereka untuk selalu rajin. Kekristenan harus memiliki semangat yang berbeda dari yang lainnya. Orang Kristen jangan hanya mengingini jalan yang tampak mudah. Bukankah hidup ini ibarat sebuah medan pertempuran. Sebuah pertempuran antara yang baik dan yang jahat. Orang percaya harus selalu bersemangat jangan mandeg.
- Orang percaya harus memelihara Roh Allah agar selalu menyala-nyala dalam melayani-Nya. Dengan semangat seperti ini orang percaya tidak akan mudah menyerah. Tidak akan mudah berputus asa. Semangat yang dimiliki orang percaya hanya untuk Kristus.
- Nasihat Paulus selanjutnya adalah tentang pentingnya mempergunakan kesempatan yang ada. Hidup ini memberi banyak kesempatan untuk belajar tentang hal-hal yang baru atau membuang hal-hal yang buruk. Kesempatan untuk mengucapkan nasihat atau peringatan, kesempatan untuk menolong atau menguatkan.
- Orang percaya hendaknya selalu bersukacita di dalam pengharapan. Orang percaya harus selalu memiliki sikap optimistis. Karena di dalam diri orang percaya ada kasih karunia Allah. Itulah dasar dan keyakinan yang menyempurnakan bagi orang percaya. Orang percaya tidak mungkin dapat hidup tanpa pengharapan.
- Ketika orang percaya menghadapi kesesakan, mereka hendaknya bersabar. Kesabaran adalah tanda bukti kemenangan bagi orang percaya. Selama manusia hidup pasti akan berhadapan dengan penderitaan. Orang percaya akan tabah menghadapi penderitaannya. Ia tidak sendirian dalam menanggung deritanya ada Kristus yang mendampinginya.
- Nasihat yang tak kalah penting adalah tentang doa. Paulus menasihatkan mereka agar selalu bertekun dalam doa. Paulus tahu orang percaya bisa saja melewatkan hari-hari kehidupan mereka tanpa berdoa kepada Allah. Orang yang berhenti berdoa, sebenarnya sedang menghindari kekuatan Allah.
Wujud memberlakukan kasih sudah dipaparkan dengan panjang lebar oleh Paulus. Memberlakukan kasih kepada sesama akan mendatangkan berkat dalam kehidupan ini. Dengan mengasihi pasti ada rasa damai sejahtera, dan sukacita.
Allah adalah kasih dan Ia sudah melimpahkan kasih-Nya kepada kita di dalam Yesus Kristus. Jadi mengasihi bukan lagi sebuah tawaran tetapi keharusan untuk selalu diberlakukan dalam kehidupan orang percaya. Kita mengasihi semua orang yang berbeda dengan kita. Juga di masa pandemi Covid-19 melanda kehidupan ini. Kita mohon kepada Allah Sang Sumber kasih agar kita mampu mengasihi sesama kita.
Hidup bijaksana itu berasal dari keyakinan Allah yang Maha Kasih itu hadir bersama manusia. Allah beserta kita karena itu maka buahnya adalah hidupnya menjadi berkat bagi dirinya sendiri dan ciptaan lainnya.
PERTANYAAN UNTUK DISKUSI
- Apakah Saudara mempunyai pengalaman kesulitan dalam memberlakukan kasih kepada sesama? Silakan Saudara berbagi.
- Jika ada, bagaimana Saudara mengatasi kendala tersebut ? Apa saja yang akan Saudara lakukan? Silakan Saudara berbagi. (ADT)