MEMPEROLEH HIDUP YANG KEKAL

1 YOHANES 5 : 9-13

“Hidup di dunia hanya sementara saja”, “Rumahku di sorga nanti”, “Dunia bukan rumahku”;  itu merupakan beberapa ungkapan yang ingin menggambarkan bahwa kita tidaklah selamanya ada di dunia. Ada ungkapan-ungkapan lain dalam bahasa daerah yang senada dengan itu, misalkan urip iku mung mampir ngombe. Ungkapan itu benar adanya, malah sangat dalam maknanya untuk menahan manusia melakukan hal-hal yang merugikan dirinya, sesama, dan semesta. Namun, terkadang ungkapan itu juga diberi makna lain bahwa karena di dunia sementara saja, sebentar saja, bukan “rumah” kita sesungguhnya maka hidup diisi dengan seenaknya dan tidak mempedulikan apa yang terjadi di sekitarnya. Berbagai bentuk penderitaan, keterasingan, dan ketidakhasilan yang dialami sesama dan atau semesta dianggap bukan menjadi urusannya juga, karena toh  ini bukan “rumah”ku maka bukan urusanku. Lalu apakah demikian pandangan umat Kristen terhadap kenyataan hidup di dunia, yang tidak selalu baik-baik saja ini? Melalui 1 Yohanes 5:9-13 kita akan melihat sisi lain dari hidup di dunia yang memang sementara itu tetapi juga dapat berarti  hidup yang kekal sudah dimulai.

Bagian terakhir dari 1 Yohanes ini memberikan penekanan kepada kehidupan yang kekal, yang  Allah berikan. Tujuan dari pasal ini ada di ayat ke-13, “Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.” Karunia hidup yang kekal itu Allah berikan kepada umat melalui Anak-Nya dan umat diminta untuk memiliki Anak dan hidup di dalam-Nya (ay. 11-12).

Percaya kepada Allah dalam Yesus, memiliki-Nya dan dimiliki oleh-Nya membuat umat hidup. Kehidupan yang Allah karuniakan karena kasih-Nya kepada manusia, kepada dunia. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh. 3:16). Hidup yang kekal, yang bukan saja bicara tentang masa yang akan datang, atau masa setelah kematian. Masa di mana tidak ada lagi derita tetapi hanya sukacita dan umat akan bersama dengan Allah, sebagai Pelindungnya, selamanya. Tetapi, hidup yang kekal juga berarti menjalani hidup yang berkualitas, hidup yang sesuai dengan status sebagai orang yang memiliki dan dimiliki oleh Allah di dalam Yesus Kristus. Hidup kekal sudah dan sedang berlangsung ketika umat memperjuangkan hidupnya sesuai dengan panggilannya sebagai umat Tuhan. Yohanes menuliskan umat harus hidup dalam terang dengan mengakui dosa-dosanya (lih. 1:8-10), dan berjuang mengikuti teladan yang sudah Yesus berikan (lih. 2:5-6). Hidup yang kekal itu juga sedang berlangsung ketika umat memperjuangkan kehidupan yang lebih baik bagi sesamanya yang menderita, yang dipinggirkan, dan yang diperlakukan tidak adil.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI

  1. Menurut Saudara,  apakah maksud dari kalimat,  “Barangsiapa memiliki Anak, ia akan hidup”? Jelaskanlah!
  2. Apa yang dapat Saudara lakukan untuk mewujudkan hidup yang kekal pada saat ini? Berikanlah contoh nyata!
  3. Bagaimana Saudara mendorong gereja, sebagai persekutuan, untuk dapat mewujudkan hidup kekal itu? 

      (MCT)