MENJADI PEMENANG DENGAN MENGASIHI

I YOHANES 5:1-6

Kata orang, menjadi pemenang berarti memenangkan perdebatan, memenangkan kompetisi, mendapat peringkat terbaik dan paling disukai, menjadi seseorang yang meraih dan memiliki segalanya, dan mengalahkan orang lain. Dimana masuk akalnya, menjadi pemenang dengan mengasihi? Apakah ini sesuatu yang mungkin ada?

Surat Yohanes adalah sebuah surat yang ditulis kepada jemaat yang bergumul di tengah aliran salah yang berkembang. Sebuah aliran dalam Gereja kala itu berkata, “ apa saja yang bersentuhan dengan dunia menghasilkan yang jahat, jadi Yesus Kristus Anak Allah tidak mungkin jadi manusia. Sebab jadi manusia, berarti jahat”. Kalau mereka terperosok lebih jauh dalam kesesatan ini, mereka akan menjadi umat yang begitu membenci dunia tapi jadi tidak peduli dan terus-terusan berbuat dosa. Atau, menjadi sosok yang begitu membenci sesama.

Dengan tubuh kemanusiaan yang sungguh-sungguh dikenakan oleh Putra Allah, Surat Yohanes ingin mengatakan bahwa Allah mengasihi kita sepenuh-penuhnya, baik tubuh, jiwa dan roh kita. Maka, ketika kita mengatakan roh kita tertuju menyembah Allah tapi kita berdosa dengan tubuh kita, dan menyakiti jiwa orang lain, maka RohNya tak tinggal dalam diri kita. Menjadi pemenang dalam dunia, menurut Surat Yohanes, adalah ketika kita bisa memahami bagaimana Yesus tinggal di dalam kita, yaitu dalam kasih. Dan kemudian kasih Allah itu memancar dari hidup kita kepada sesama melalui perbuatan baik.

Dalam perikop ini kita belajar bahwa menaati Allah bukan dengan menakar seberapa dalam ajaran agama dari ritual keagamaan yang sering dilakukan, melainkan terutama dari bagaimana kita menaati Allah untuk terus menggumuli arti dari panggilan mengasihi, mengabdi dan melayani. Susah? Ya, iya! Pasti susah. Emas tak mungkin berada di dalam tempat yang kotor. Karenanya untuk memenuhi kaidah emas ini, perlu perjuangan. Mengalahkan dunia yang jahat kata penulis surat Yohanes berarti bersikap tidak sama seperti dunia ini. Sungguh-sungguh tulus dan jujur. Penuh kerendahan hati menerima Injil dan kasih Kristus. Berbakti dalam cinta kepada Tuhan tanpa mengharap balasan. Seperti Maria Bunda Allah, kita menyelami setiap perkataan Allah, berusaha memahamiNya, mengertiNya, dan menaatiNya dalam keseluruhan laku dan perkataan kita.

Jadi, bagaimana menjadi pemenang dengan mengasihi? Pertama, yakinkan bahwa hati kita sendiri diisi kasih Allah. Bagaimana mengukurnya? Gampang kok. Apa kita sudah seperti cabang pohon anggur yang bersih, dan berbuah banyak dengan tinggal di dalam Pokok Anggur kita yaitu Kristus? Hanya dengan melekat pada Kristus, kita bisa tinggal dalam Dia dan berbuah banyak. Tak usah pedulikan spiritualitas orang lain, mari sejernih mungkin memeriksa spiritualitas kita. Seberapa dalam kita mengasihi Kristus? Apa kita sungguh menikmati persekutuan kita bersama Tuhan?

Baru, kemudian kita bisa berbuah banyak kata Kristus dalam Yohanes 15:4. Dan berbuah banyak itu artinya hidup untuk mengasihi, melayani, dan berbakti. Hidup yang saling mengasihi, gembira, mempunyai ketenangan hati, sabar dan berbudi, baik terhadap orang lain, setia, rendah hati, dan selalu sanggup menguasai diri. (Bdk. Galatia 5:22, BIS). Itulah pemenang yang sejati!

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI

  1. Ceritakan kisah iman anda! Bagaimana anda merasakan kasih Tuhan berkerja dalam hidup anda!
  2. Ceritakan kisah kasih anda bersama sesama! Bagaimana pelayanan membuat kita bahagia dan bersukacita?

     (DES)