PERSEKUTUAN DENGAN ALLAH DAN SESAMA

1 Yohanes 1 : 1 – 2:22

Persekutuan Kristen yang sejati adalah persekutuan antara orang percaya yang dibangun di atas dasar persekutuan dengan Allah (1:3, 7). Relasi vertikal dengan Allah menentukan relasi horizontal antar orang percaya. Tatkala dua sisi relasi ini terbangun dengan baik, persekutuan komunitas Kristiani akan diwarnai dengan sukacita yang penuh (1:4).

Surat I Yohanes merupakan surat yang di tuliskan oleh Rasul Yohanes untuk mengingatkan pembacanya akan adanya pengajaran-pengajaran sesat. Surat ini juga membangun jemaat untuk memiliki semangat persekutuan. Pembacanya di dorong untuk saling mengasihi dan hidup dalam persekutuan dengan Kristus.

Melalui teks ini kita melihat dua hal yang erat berkaitan yaitu kesaksian jemaat dan persekutuan jemaat. Tanpa kesaksian jemaat tidak mungkin terjadi persekutuan. Pertama, kesaksian jemaat. “Apa yang ada sejak semula” (ayat 1), inilah yang telah mereka lihat dan yang telah mereka dengar. Kesemuanya ini menunjuk bukan pada ajaran Kristen, melainkan pada seorang pribadi. Dengan perkataan lain, yang diberitakan bukan suatu ajaran agama, melainkan pribadi Yesus. Dialah yang menjadi sumber kehidupan manusia (ayat 1,2). Hidup rohani dan jasmani manusia bersumber dari Yesus. Artinya manusia dapat memiliki hidup jasmani, namun tidak memiliki hidup rohani. Jika manusia percaya pada Yesus melalui kesaksian orang Kristen, maka ia memiliki hidup rohani. Inilah artinya memiliki hidup kekal (ayat 2). Jadi Yesus, Pemberi hidup adalah isi pemberitaan dalam tugas kesaksian Kristen.

Kedua, persekutuan jemaat. Orang yang percaya pada Yesus dihimpun dalam suatu persekutuan. Umat yang bersekutu karena Yesus kemudian menyatakan kesatuan persekutuannya melalui kesaksian. Mereka bersaksi tentang Kristus. Tujuan kesaksian adalah persekutuan (ayat 3). Umat Kristen bukan hanya suatu kumpulan sosial. Umat Kristen bersekutu untuk suatu tugas pelayanan yakni bersaksi. Persekutuan Kristen menjadi nyata melalui kesaksian. Umat Kristen menyaksikan berita yang sama yakni Yesus adalah sumber hidup. Umat yang bersaksi menyatakan bahwa mereka bersekutu dengan Kristus dan umat Kristen lainnya. Kesaksian merupakan bukti persekutuan dengan Kristus dan persekutuan umat yang bersaksi tentang Kristus. Apa akibat kesaksian jemaat? Membawa manusia lainnya ke dalam persekutuan umat. Kesaksian akan menyebabkan munculnya persekutuan.

Jika kita belum percaya kepada Yesus, kita belum mempunyai persekutuan dengan Allah, dan karena itu juga tidak akan bisa mempunyai persekutuan dengan orang kristen yang lain. Bersekutu bukanlah sekedar bersahabat dengan saudara seiman, tetapi juga melibatkan sharing. Ini bisa berupa sharing / membagi pengalaman (baik berkat maupun kesukaran), tetapi juga berupa sharing/membagi milik kita untuk menolong orang yang kekurangan, seperti yang terjadi dalam Kisah Para Rasul 2:44-45 dan Kisah Para Rasul 4:32-37.

Yang dimaksud dengan persekutuan adanya rasa kebersamaan. Konteks gereja mula-mula membangun persekutuan (Kisah 2:42- 47); memecahkan roti dan berdoa, ada banyak  mujizat dan tanda, kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan, bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul, makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, mereka disukai semua orang. Dengan kata lain, di dalam persekutuan terjalin begitu indah.

Setiap orang yang hidup di dalam persekutuan dengan Allah, maka ia juga harus hidup dalam terang. Kehidupannya tidak lagi melakukan perbuatan-perbuatan gelap (dosa). Jika ada yang menyatakan dirinya hidup bersekutu dengan Tuhan tetapi melakukan perbuatan-perbuatan kegelapan maka ia adalah pendusta.

Sebagai orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus tentunya kita harus hidup di dalam terang. Kita harus mengakui keberdosaan kita, sehingga kita mendapatkan pengampunan dari Allah, yang menjadikan kita lahir baru. Dan setiap orang yang mendapatkan pengampunan Allah akan hidup bersekutu dengan orang-orang yang percaya kepadaNya.

Persekutuan jemaat berarti juga persekutuan antarjemaat dan persekutuan dengan Allah. Persekutuan dengan Allah berarti persekutuan dalam Terang (ayat 5), oleh karena itu persekutuan manusia dengan Allah tidak mungkin terjadi dalam kegelapan. Dosa mengakibatkan rusaknya persekutuan dengan Allah dan dengan sesama.

Sangat penting bagi kita melihat kembali bagaimana hubungan kita dengan sesama kita dan hubungan kita dengan Allah selama ini. Persekutuan dengan Allah seharusnya terlihat juga melalui pola hidup, kata, dan karya kita! Seorang yang sungguh-sungguh hidup dalam terang akan meninggalkan segala bentuk kejahatan dan kehidupan kegelapan, karena terang itu telah menelanjangi segala perbuatan kegelapan. Apa yang dulu dinikmatinya, sekarang dibencinya; apa yang dulu dibanggakan, sekarang menjadi kesia-siaan karena Kristus. Maka ia akan menjaga hidupnya benar sesuai firman-Nya dan senantiasa berjalan dalam terang Allah.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:

  1. Bagaimana cara kita untuk menumbuhkan persekutuan yang saling membangun?
  2. Apa yang biasa kita lakukan sebagai persekutuan orang percaya untuk dimampukan hidup dalam terang dan menjadi berkat bagi sesama? (DEW)