Kebangunan rohani didalam sejarah selalu diiringi dengan munculnya lagu-lagu baru. Gerakan kebangunan rohani di Jerman pada abad tujuh belas melahirkan banyak lagu himnal Jerman yang ditulis oleh tiga orang penting. Diantaranya adalah seorang wanita bernama Katharina Amalia Dorothea von Schlegel (1697 – 1768). Dia menulis teks lagu ini dalam Bahasa Jerman “Stille meine Wille, dein Jesus hilft siegen” pada tahun 1752, lalu seratus tahun kemudian teks ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1855 oleh Jane Laurie Borthwick (1813 – 1897). Musiknya ditulis oleh Jean Sibelius, seorang komponis terbaik dari Finlandia dan musik-musiknya mencerminkan karakter nasionalis yang kuat.
Tuhan telah memakai ketiga orang diatas dari negara-negara yang berbeda untuk melahirkan satu lagu himnal yang mengajarkan akan kebenaran Alkitab bahwa orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru (Yes 40 : 31). Selanjutnya diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia oleh E.L Pohan (bait 1,2,4 tahun 1966) dan Yamuger (bait 3, tahun 1987). Lagu ini dimuat dalam Pelengkap Kidung Jemaat (PKJ) No.166 dan Nyanyian Kidung Baru (NKB) No. 169 dengan Judul Tenang dan Sabarlah.
| Tenang dan sabarlah, wahai jiwaku. Tahan derita, jangan mengeluh; Serahkan sajalah pada Tuhanmu Segala duka yang menimpamu. Allah setia, tak mengecewakan Yang dinaunganNya ingin berteduh. Tenang dan sabarlah, wahai jiwaku. Biarkan Tuhan yang memimpinmu, Sebab di tangan Allah masa lampu, Dikendalikan masa depanmu. Gelombang dahsyat tak-kan menerpamu Karna dibawah kuasa Tuhanmu. | Be still, my soul; the Lord is on thy side; Bear patiently the cross of grief or pain; Leave to thy God to order and provide; In every change He faithful will remain. Be still, my soul; thy best, thy heavenly, friend Through thorny ways leads to a joyful end. Be still, my soul; thy God doth undertake To guide the future as He has in the past Thy hope, thy confidence, let nothing shake; All now mysterious shall be bright at last. Be still, my soul; the waves and winds still know His voice who ruled them while He dwelt below. |
Dua bait diatas mengajak untuk tetap tenang dan sabar. Dalam bait pertama dikatakan tenang dan sabar menghadapi derita, menahan duka yang menimpa. Dalam bait kedua diingatkan kembali karena Tuhan akan memimpin perjalanan di masa depan sebagaimana Ia telah memimpin di masa yang lalu.
Sudah lebih dari sebulan kita menghadapi kondisi social distancing karena virus Corona, dimana kita melakukan pekerjaan dari rumah (WFH), belajar di rumah, dan beribadah di rumah. Mungkin banyak yang sudah mulai jenuh, lelah dan gelisah dengan keadaan yang terasa menekan saat ini, hingga muncul dalam benak kita pertanyaan sampai kapan hal ini akan berlangsung?
Sebagai orang percaya, saat ini iman kita diuji untuk selalu setia dan percaya akan janji dan pertolongan Tuhan. Kiranya lagu yang dulu membangkitkan iman orang-orang percaya di abad ketujuh belas juga menjadi berkat dan membangkitkan iman kita saat ini. Tenang dan Sabarlah, wahai jiwaku.
Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya. Penolongku dan Allahku! (Mazmur 42 : 6, 12; Mazmur 43 : 5).