Lakukan Bersamaan

1 Tesalonika 5 : 16-24

Di dalam Kebaktian Minggu telah dijelaskan tentang panggilan Gereja untuk menjadi pewarta kabar baik melalui pelayanan dan kesaksiannya selaku persekutuan orang percaya. Perwarta kabar baik dalam konteks kehadiran dan realitas hidup yang dihadapi, terutama di tengah-tengah berbagai bentuk penderitaan yang dialami oleh sesama manusia. Untuk itu, Gereja perlu memberikan perhatian pada isu-isu sosial yang terjadi di sekitarnya dan hadir untuk memberitakan damai sejahtera dan adanya pengharapan di dalam Kristus.

Dalam rangka melakukan panggilan sebagai pemberi kabar baik (dan juga menjadi kabar baik di tengah dunia ini), maka perlu ada keseimbangan. Keseimbangan inilah yang dapat dipahami dari beberapa hal yang Paulus sampaikan kepada Jemaat di Tesalonika. Yaitu adanya suatu kualitas rohani dan tingkat spiritualitas di dalam diri setiap orang percaya yang panggilannya adalah menjadi pewarta kabar baik dan sekaligus menjadi kabar baik itu sendiri bagi seisi dunia ini.

Kualitas rohani itu, oleh Paulus, dijabarkan sebagai suatu kualitas hidup orang percaya yang selalu belajar untuk bersukacita senantiasa di dalam segala hal, tidak lepas dari relasi dengan Tuhan melalui doa-doa yang bukan saja mengarah pada diri sendiri tetapi juga menjadi pendoa syafaat bagi sesamanya, yang terus belajar mengucap syukur. Hal inilah yang menjadi kehendak Allah bagi diri setiap orang percaya. Orang percaya yang terus bersemangat dan giat karena Roh Kudus untuk melakukan apa yang Tuhan kehendaki, yang memperhatikan kebenaran Firman Tuhan, selalu berpegang pada yang baik dan menjauhi apa  yang jahat.

Kualitas spiritualitas yang terjaga dengan menjaga kekudusan hidup seluruhnya sambil menantikan kedatangan Kristus kembali, dan yang tetap setia dalam iman kepada Kristus yang akan menggenapi segala sesuatunya.

Oleh karena disebut sebagai penyeimbang, orang percaya harus melakukan kedua-duanya secara bersama-sama. Ia harus menjadi seorang percaya dan pengikut Kristus yang memiliki kualitas rohani dan spiritualitas yang baik dan secara bersamaan, mewujudkannya dalam karya sebagai pemberita kabar baik. Justru dengan memiliki kualitas rohani dan spiritualitas yang baik, hal ini telah menjadi kesaksian baik yang mendukung segala upaya orang percaya untuk menjadi pemberita dan pembawa kabar baik di tengah dunia ini. Sebaliknya, bila orang percaya tidak bersedia dengan setia menjadi pemberita dan pembawa kabar baik di tengah dunia ini, maka perlu dipertanyakan kualitas rohani dan spiritualitasnya sebagai orang yang percaya dan beriman kepada Kristus. Semuanya berlangsung vice versa alias saling terjadi sebaliknya. Seorang yang punya kualitas rohani baik, ia adalah pewarta kabar baik. Seorang yang mewartakan kabar baik, sudah seharusnya punya kualitas rohani yang baik.

Untuk didiskusikan:

  1. Bagaimana usaha kita untuk melatih diri sehingga memiliki kualitas rohani dan spiritualitas yang baik?
  2. Daya upaya apa saja yang dilakukan dalam rangka mewujudkan panggilan sebagai pewarta kabar baik?  (AAS)